Rabu, 16 April 2014

Menengok wayang kulit jumbo ukuran 3 meter


Tritus Julan
Sabtu,  5 April 2014  −  07:10 WIB

Anom Sudarmaji Dalang Wayang Jumbo dari Mojokerto (Foto: Tritus Julan/SINDO)
Sindonews.com - Dengan penerangan satu lampu neon, Anom Sudarmaji terlihat teliti memotong lembaran kulit sapi yang di bagian atasnya telah digambar salah satu tokoh wayang.

Dia harus benar-benar teliti memotong dengan menggunakan tata kecil. Karena tak hanya memotong, sejumlah lekukan kecil juga harus dia buat dengan rapi di bagian dalam gambar.

Kepiawaian bapak tiga anak ini membuat wayang kulit memang tak diragukan lagi. Selain cara memotong yang sangat rapi, dia juga mahir menggambar utuh semua tokoh pewayangan. Tak perlu gambar contoh, dia dengan cepat bisa membuat gambar utuh tokoh Arjuna. Usai membuat pola dan memotongnya, dia memberikan warna dengan cat air yang dicampur lem.

Anom Sudarmaji bukanlah perajin wayang kulit biasa. Selain bisa membuat sendiri, dia juga seorang dalang tersohor di Mojokerto. Terlebih, dia memiliki ciri khas dengan ukuran wayangnya yang ekstra besar alias jumbo. Ukuran yang tak lazim untuk wayang kulit. Dia membuatnya dengan ukuran tinggi dua meter lebih. ”Ada yang hingga mencapai hampir tiga meter,” kata Anom kepada SINDO, Jumat 4 April 2014.

Membuat dan memainkan wayang kulit berukuran jumbo bukan tanpa alasan baginya. Kesenian khas Jawa itu memang telah ditinggalkan masyarakat. Tergerus oleh banyaknya kesenian modern yang mudah diterima semua kalangan. ”Agar bisa lebih menarik dan berkesan. Kalau dengan ukuran wajar, saya yakin tak banyak masyarakat yang suka,” ujarnya.

Sudah 15 tahun terakhir dia menggunakan wayang kulit jumbo di setiap pertunjukkannya. Sejauh itu pula, diakui jika grup wayang kulit Siswo Laras binaannya tak pernah sepi panggilan. Dalam setahun, rata-rata dia mengantongi lebih dari 60 kali pementasan.

”Alahmdulillah, dengan wayang ukuran besar, banyak panggilan. Dan hanya saya yang menggunakan wayang kulit jumbo,” paparnya.

Membuat dan memainkan wayang kulit dengan ukuran jumbo, memang tak mudah. Untuk membuatnya, butuh kulit sapi utuh yang berukuran besar. Untuk itu, dia kerap menemui kesulitan. Namun baginya, itu bagian dari tantangan. ”Kini saya sudah memiliki sekira 16 wayang kulit jumbo,” akunya.

Sementara untuk memainkannya, dia juga butuh tenaga yang ekstra. Namun di usianya yang kini menginjak 53 tahun, Sudarmaji mengaku masih mampu.

”Apalagi saat memainkan tokoh perang. Wayangnya berat. Butuh larapan (pohon pisang tempat memasang wayang) yang berukuran besar pula,” aku pria yang tinggal di Dusun Kedunggalih, Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini.

Berprofesi sebagai dalang dan perajin wayang jumbo, baginya adalah satu-satunya sumber mata pencaharian. Dari profesi itu pula dia mampu menyekolahkan tiga putra-putrinya hingga jenjang sarjana. Dan kini, kehidupannya terbilang mapan.

”Hanya dari dalang dan membuat wayang saja kebutuhan keluarga dan sekolah anak saya tercukupi,” ujar pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SD ini.

Sudarmaji memang tak hanya membuat wayang kulit jumbo. Dia juga membuat wayang kulit dengan ukuran normal. Dari selembar tokoh pewayangan berukuran normal, dia bisa mengantongi Rp800 ribu. Sementara wayang kulit ukuran jumbo, per buah dia banderol hingga Rp3,5 juta.

”Sekarang saya sudah memiliki empat set wayang kulit, termasuk jumbo. Semuanya saya buat sendiri,” katanya.

”Setiap pertunjukan di dalam kota, satu grup kami mendapatkan imbalan Rp13 juta. Cukup untuk menghidupi sekira 50 anggota grup ini,” pungkasnya.
(rsa)

1 komentar:

  1. Acungkan jempol dan apresiasi yang tinggi buat dalang Anom Sudarmaji yang telah berupaya keras untuk melestarikan dan mengembangkan seni budaya Nusantara melalui kesenian wayang jumbonya yang unik, kreatif dan inovatif. Salam seni budaya Nusantara!

    BalasHapus