Kamis, 09 Juni 2016

TIGA PUISI WAYANG Karya: Ki Slamet 42

Blog Ki Slamet 42 : Wyang Islami
Jumat, 10 Juni 2016 - 06:22 WIB

Image "Begawan Dorna" (Foto:Google)
Begawan Dorna

GUGURNYA SANG PANDITA DORNA
Karya : Ki Samet 42

Alkisah begawan Dorna jadi panglima perang Kurawa
Di dalam perang Baratayuda Amarta melawan Astina
Nampak  gagah  perkasa Dorna berdiri di atas kereta
Dengan senjata panah sakti yang hias di punggungnya
Meski banyak dihujani panah berbagai macam senjata
Tapi, tiada satupun juga senjata yang bisa melukainya

Melihat keadaan ini Sri Kresna khawatir tiada terkira
Sebab dia tahu tak satupun bisa kalahkan sang Dorna
Kecuali jika putera terkasihnya Aswatama telah tiada
Sri Kresna pun bersiasat, perintahkan kepada Arjuna
Agar berikan  kabar berita  pada Sang Pandita Dorna
Bahwasannya sang putera Aswatama itu telah perlaya

Timbul rasa sungkan dan enggan di dalam hati Arjuna
‘Tuk laksanakan strategi  siasat dusta dari Sri Kresna
Sebab Pandita Dorna adalah guru yang dihormatinya
Yang ajarkan padanya kecekatan memanah tiada tara
Yudistira saudara tertuannya juga berpendapat sama
Bagus mati daripada beri kabar bohong pada gurunya

Sementara Pandita Dorna makin dahsyat tandangnya
Rentangkan tali busur lepaskan panah-panah saktinya
Banyaklah prajurit Pandawa yang gugur di medan laga
Tewas seketika tertembus panah sang Pandita Dorna
Lihat pasukan Pandawa banyak yang meregang nyawa
Bima melompat ke muka turun dari kereta perangnya

Bima  berkata, bahwa dia sepakat perintah Sri Kresna
Maka Bima majulah ke depan hadang gajah Aswatama
Kendaraan perang yang dikendalikan oleh raja Malawa
Dipukullah  gajah dan penunggangnya itu dengan gada
Sehingga Raja Malawa serta gajah bernama Aswatama
remuk badannya dan hancur kepalanya tewas seketika

Bima pun segera sampaikan kabar berita kepada Dorna
Bahwasannya Aswatama sudahlah tewas di medan laga
Mendengar kabar putera terkasihnya ‘lah gugur perlaya
Betapa terpukul sekali jiwanya, dia teramatlah berduka
Seketika itu dia jatuh pingsan di atas kereta perangnya
Tapi sebentar kemudian kembali temukan kesadarannya

Sang Pandita Dorna  yang  mumpuni  sakti  dan  digjaya
Masih belum percaya atas berita yang disampaikan Bima
Bahwa puteranya terkasih Aswatama gugur di kurusetra
Dia bertanya pada Yudistira yang di sepanjang hidupnya
Dikenal orang yang penyabar dan tiada pernah berdusta
“Yudistira, apakah benar puteraku, Aswatama perlaya?”

Dengan sedikit ragu dan lidah kelu menjawab Yudistira,
“Ya guru,  Aswatama memang telah tewas di kuru setra,
Akan tetapi....” Belumlah selesai Yudistira berkata-kata,
Sang guru,  Pandita Dorna menjadi lemah tiada berdaya
Dia  tak lagi miliki semangat hidup, pingsan lagi di kereta
Di  tempat  duduknya yang  berhias manikam indah rupa

Para resi dan para dewa bersoraklah riuh riang gembira
Dari angkasa raya mereka semua taburkan bunga-bunga
Seraya berucap kata,  “Kemenanganlah untuk Arjuna!”
Pada kesempatan itu,  Drestajumena binasakan Dorna
Dengan penggal kepala  sang  panglima perang  Kurawa
Hingga kepala pandita Dorna terpisahlah dari badannya

Melihat perlakuan sadis  yang dilakukan Drestajumena
Yudistira, putera Dewa Darma pun berucap kata-kata,
“Kau bererdosa Drestajumena bunuh seorang Pandita!”
Tetapi Drestajumena tak pedulikan kata-kata Yudistira
Ia bahkan melempar-lempar kepala sang Pandita Dorna
Ke  atas ke bawah berulang-ulang dengan perasan suka

Melihat ulah Drestajumena itu raja Kurupati Suyudana
Alangkah sangat murka,  dia berteriak sekeras-kerasnya
Hatinya  dicekam rasa ngeri  dan amarah melihat kepala
Pamannya Pandita Dorna dilempar ditendang bagai bola
Tapi Drestajumena tak peduli dengan amarah Suyudana
Dia bahkan melempar kepala itu sampai kenai muka raja

Sementara itu para  prajurit tentara  pasukan Pandawa
Semakin bersemangat daya tempurnya dengan tewasnya
Panglima perang kurawa, Sang begawan Pandita Dorna
Mereka teruslah berjuang menyerbu dengan dahsyatnya
Menyerang cara bergelombang seluruh pasukan Kurawa
Hingga banyaklah prajurit Kurawa yang meregang nyawa

Tiadalah terhitung jumlahnya korban dari pihak Kurawa
Yang tewas terbunuh di medan pertempuran Kurusetra
Mayat-mayat bergelimpangan,  berserakan di mana-mana
Salinglah bertumpukan tertindih bangkai gajah dan kuda
Pendeta Krepa,  Arya  Sangkuni,  dan sang  Prabu  Salya
Melarikan diri dari  medan tempur sertai  Raja Suyudana

Di saat mereka larikan diri,  datang Aswatama bertanya,
Kenapakah  mereka bisa melarikan diri dari medan laga ?
Pendeta Krepa  menjawab, bahwa  Dorna telah  perlaya
Tewas mengenaskan  kepalanya  dipenggal Drestajumena
Saat  jatuh terduduk, pingsan  di atas kereta perangnya
Dan kepalanya dilemparkan ke arah muka Raja Suyudana

Maka betapalah murka sang Aswatama anak Kumbayana
Dia bersumpah  ‘tuk balas dendam kepada Drestajumena
Yang telah sadis membunuh ayahnya sang Pandita Dorna
Dengan memenggal kepala kemudian melempar-lemparnya
Kepala ayahnya yang sangat dihormatinya itu begitu rupa,
“Kau lihatlah ini, aku akan membunuhmu Drestajumena!”

Dengan mengandalkan senjatanya panah keramat Narayana
Aswatama mengamuk dahsyat tiada yang bisa mencegahnya
Dia terus bersumpah serapah kasar cari-cari Drestajumena
“Huah... Drestajumena pengecut! Dimanakah kau berada?”
“Dan, aku akan pastikan segera  memenggal kepalamu juga,
Seperti yang kau lakukan kepada ayahku, Pandita Dorna !”

Maka setelah berkata demikian melesatlah panah Narayana
Menyapu bersih para prajurit Pandawa yang tewas seketika
Mati terbakar oleh api keramat dari panah sakti Aswatama
Hal ini membuat semua prajurit Pandawa yang masih tersisa
Menjadi kecut dirasuki perasaan takut yang tiada terhingga
Semangat juang makin lemah  sebab rekannya banyak binasa

Dalam situasi seperti ini, Yudistira perintahkan pada Arjuna
Agar bersama-sama para prajurit pasukan  yang di pimpinnya
Maju ke garis depan untuk mengatasi tandangnya Aswatama
Namun Arjuna tak miliki semangat karena kematian gurunya
Dia  dirudung  duka nestapa  dan penyesalan yang tiada tara
Rasa bersalah kepada gurunya membuat ia lupa jiwa kesatria

Pikirnya,  pastilah orang akan menyalahkannya,  dan berkata :
 “Ia telah berdosa membunuh seorang guru yang dihormatinya,
Itu sungguh memalukan karena Arjuna murid terkasih Dorna,
Semua negara  tentulah akan  mencibirnya,  dan menghinanya
Dengan mengatakan, ia sangat tidaklah jujur kepada gurunya,
“Lebih baik saya ini pergi mencari tempat di hutan rimba saja”.

Sikap Arjuna seperti itu teramat membuat kecewa Bima Sena
Sang Bima  pun berkatalah kepada adiknya, si Janaka Arjuna:
“Arjuna, jika kau bersikap demikian mengingkari jiwa kesatria!
Ya,  kau berdamailah dengan Aswatama, dan biarlah aku saja
Yang akan bunuh Aswatama yang dengan panah Narayananya
Sudah  membunuh ribuan prajurit kita  di medan  kurusetra”.

Demikianlah kata-kata Bima Sena kepada adiknya R. Arjuna
Sementara itu, di tempat lain Setyaki ngejek Drestajumena:
“Ha, ha, ha,  Drestajumena kau akan membunuh Aswatama
Silahkanlah berbuat sesukamu, aku Cuma bisalah tertawa”.
Drestajumena, putera Raja Drupada jadi berang tiada kira,
Rentang busur panah ke arah Setyaki yang bersenjata gada

Peristiwa ini telah buat Bima turun dari kereta perangnya
Dengan Segera ia rangkul Setyaki yang diikuti oleh Nakula
Lalu keduanya berkata kepada Setyaki dan Drestajumena
Bahwa apabila keduanya masih saling olok bertengkar saja
Maka kemungkinan besar mereka ‘kan saling beradu nyawa
Maka mereka pun ditenangkan oleh Kresna  dan Yudistira

Setelah Setyaki dan Drestajumena berdamai bagai semula
Maka keduanya pun majulah bersama-sama ke medan laga
Untuk atasi amuk Aswatama, putera sang pendeta Dorna
Yang membabi buta  kobari api dari panah sakti Narayana
Hingga banyak prajurit Pandawa mati terbakar api dahana
Mereka  meregang nyawa  gugur di medan laga  Kurusetra

Maka  Kresna  pun perintahkan kepada pasukan Pandawa
Agar mereka  semuanya masing-masing  ke luar dari kereta
Mereka pun dengan cepat melakukan perintah Sri Kresna
Hanya Bima sajalah yang berada di dalam kereta perangnya
Dengan demikianitu maka panah-panah api sang Aswatama
Yang tak terhitung jumlahnya semua menuju ke  arah Bima

Pada saat itulah panah sakti Arjuna yang bernama Baruna
Melesat pesat cepat laksana kilat dari tangan sang Arjuna
Putera Dewa Indra yang kecakapan memanahnya tiada dua
Maka tertolonglah Bima dari tajam panasnya api Narayana
Sedang panah sakti keramat Narayana hilanglah gaib sirna
Hal ini  menjadikan  bertambahnya keberangan  Aswatama

Dia pun  keluarkan panah sakti lainnya  bernama Tejomaya
Yang kesaktiannya panah itu jumlahnya bisa berlipat ganda
Maka Aswatama rentangkan tali busur dan anak panahnya
Tejomaya mendesing melesat cepat jadi ratusan jumlahnya
Menuju ke arah Bima dan semua prajurit pasukan Pandawa
Yang  masih belum sadari bahaya yang mengancam jiwanya

Kresna dan Arjuna cepatlah menarik tubuh sang Bima Sena
Lalu melompat dari atas kereta berdiri di atas tanah segera
Ketika saksikan panah-panahnya disapu bersih panah Arjuna
Semakin memuncaklah kemarahan Aswatama, putera Dorna
Dia pun keluarkan senjata handal sakti panah pamungkasnya
Yang dapat keluarkan api sebesar gunung yang menyala-nyala

Sang  putera Dewa Indra,  Arjuna pun keluarkan senjatanya
Ialah Brahmastra,  panah sakti penghancur berbagai senjata
Panah  pamungkas, Aswatama yang dahsyat berkobar apinya
Semuanya disapu bersih dihancurkan oleh panah Brahmastra
Melihat  kegagalan ini  timbul rasa malu  pada diri Aswatama
Ia pun secara diam-diam melarikan diri sembunyi di belantara

Di hutan belantara ini, Ia berdiam di tempat suci Wagiswara
Sementara itu,  keadaan prajurit pasukan Kurawa di Astina
Sepeninggalnya alami kekalahan besar oleh prajurit Pandawa
Pasukannya menjadi lemah dan lumpuh tiada lagi punya daya
Setelah  sang  Begawan, sang Pandita Dorna,  gugur  perlaya
Sungguh Kerajaan Astina menjadi seperti tiada punya nyawa 

Minggu, 28 Febuari 2016 – 12:42 WIB
Ki Slamet 42 Di Pangarakan, Bogor


Dursasana Gugur

“MATINYA DURSASANA”
Karya : Ki Slamet 42

Sang  Dursasana  melompat dengan  waspada
Genggamlah panah besar sakti bernama bhalla
Panah  sakti bhalla  melesat cepat ke angkasa
Pancarkan kobaran api mengarah tubuh Bima
Hingga Bima putera Bayu pun jatuh terkesima

Tapi Bima cepat sadar dengan keadaan dirinya
Dia pun segera bangkit berdiri dengan perkasa
Kobaran  api bhalla  tiada bisa bakar tubuhnya
Dengan tandang sebat balas serang Dursasana
Terjadilah perang tanding  di antara keduanya

Keduanya nampaklah garang, saling menyerang
Saling bersiasat,  bahkan gunakan cara curang
Bima kembali serang Dursasana dengan garang
Tiada orang  bisa menghalang Bima bertandang
Hingga bumi jadi terasa bergoyang berguncang

Kepada Dursasana,  Bima bersesorah gancang
Suaranya keras laksana suara guntur di awang
Buat Dursasana jantungnya berdetak kencang
Timbul rasa kecut,  takut pikirannya melayang
Namun  ia berupaya  agar hatinya tetap tenang

“Wuakh... kau Dursasana, manusia licik curang
Yang pintarnya cumalah mengganggu istri orang
Beraninya kau melawanku tetapi,  terus terang
Aku senang bisa cepat buat nyawamu melayang
Dan, minum darahmu dengan  perasaan senang”

Bima cepat melompat dari gajah yang ditunggang
Hampiri Dursasana  yang telah waspada  memang
Dengan gerak Bima yang dengan ganas menyerang
Maka,  Dursasana cepat hindari serangan garang
Bima yang tak alang kepalang dengan balik serang

Dursasana pun melempar tombaknya ke arah Bima
Seraya berkata dengan kata ejekan yang menghina:
“Ha, ha, ha, ha ... kau kah itu Bima,  si Werkudara
Bukankah kau ini budakku yang telah minggat lama
Dulu hampir saja aku jamah itu istrimu yang jalang”

Bima menangkap tombak yang dilempar Dursasana
Lalu dipatahkannya tombak itu hingga menjadi dua
Melihat itu Dursasana berlari ngacir kecut hatinya
Bima tangkap Dursasana dengan jambak rambutnya
Dijambak Bima, Dursasana sama sekali tak berdaya

Dursasana cuma bisa pukul kiri,  pukul  kanan saja
Menendang dengan kakinya  tanpa bisa  kenai Bima
Seketika itu Bima injak muka dan badan Dursasana
Sehingga tubuhnya memar, bengkak-bengkak semua
Dursasana membalas, tapi Bima terus menginjaknya

Ketika itu Sangkuni dan Suyudana majulah ke muka
Dengan sengit mereka menyerang menggempur Bima
Tetapi Bima,  dapatlah dengan mudah mengatasinya
Bahkan  Bima  menghadapinya  sambil  tertawa-tawa
Sementara Arjuna, Nakula, Sadewa membantu Bima

Tanpa hiraukan keadaan sekelilingnya Bima berkata:
“Wahai semua, khususnya dewa yang jelma di dunia!
Lihatlah aku, Bima yang akan segera penuhi janjinya
Di  tengah-tengah  medan  pertempuran ini,  bahwa  
Aku akan menghirup,  meminum darah Dursasana!”

“Dan, ini hari terakhir Drupadi menggerai rambutnya
Rasakan akibat perbuatan jahatmu, wahai Dursasana
yang tidak sopan telah membuat malu Dewi Drupadi
Percuma  kau berupaya lepas dengan  meronta-ronta
Meski  kau berupaya  bangkit lagi  kau tak akan bisa!

Setelah berkata demikian, Bima meringkus Dursasana
Cengkeram perutnya lalu dengan kuku pancanakanya
Robek perut dada Dursasana hingga robek menganga
Lalu Bima pun menghirup meminum darah Dursasana
Yang  muncratlah  dari luka robek di perut dan dada

Maka Dursasana tewas regang nyawa di tangan Bima
Ketika minum darah Dursasana,  Bima tarik ususnya
Hingga terburai ke luar dari dalam perut Dursasana
Perilaku Bima  lampiasan dendam kepada Dursasana
Yang telah membuat malu Dewi Drupadi begitu tega


Kp. Pangaran, Bogor
Sabtu, 16 April 2016 – 13:10 WIB

Image "Patih Sangkuni" (Foto:Google)
Patih Sangkuni

“MATINYA SANGKUNI”
Karya : Ki Slamet 42

Tersebutlah kisah dalam perang bharatayudha
Prabu Salya mati perlaya di medan kuru setra
Yang membuat rasa gentar semua pasukannya
Dalam menghadapi pasukan kuat Pandawalima

Mereka dikejar-kejar nampak bubar cerai-berai
Melihat keadaan itu, Suyudana pun kecut hati
Namun jiwa kesatrianya  ajak dia untuk berani
Maka dia pun tempur lagi dengan gagah berani

Di medan tempur itu Suyudana amok babi buta
Bersama pasukan dan saudaranya para kurawa
Berbalas menyerang melepaskan panah saktinya
Yang membuat banyak prajurit Pandawa binasa

Melihat keadaan ini,  Arjuna tampillah ke muka
Untuk tangkis serangan panah-panah Suyudana
Dengan panah saktinya pula bernama Candanila
Yang bisa datangkan taufan besar pemutar bala

Maka tersapubersihlah panah-panah  Suyudana
Tak satupun yang bisa sentuh prajurit Pandawa
Tetapi pasukan Kurawa semakin menjadi murka
Mereka terus menggempur sirna ketakutannya

Akan tetapi,  di sana ada Bhima dengan gadanya
Yang berputar kencang bergemuruhlah suaranya
Gada Lohita  banyak binasakan prajurit Kurawa
Dan hampir saja Suyudana pun tewas dibuatnya

Sementara Sangkuni yang ada di dekat Suyudana
Gemetar badannya ciut hati pucat pasi wajahnya
Di saat Bhima menangkap menjambak rambutnya
Dia merengek menangis minta ampun pada Bhima

Tapi sang Sena Bhima tiada mau sama sekali peduli
Dengan segala tingkah yang diperlihatkan Sangkuni
Sebab dia tahu persis watak Sangkuni yang pengiri
Jahat, banyaklah tipu muslihat, licik dan pendengki

Maka Bhima Sena menghatam keras tubuh Sangkuni
Dengan gada Lohita  hingga Sangkuni seketika mati
 Bhima menghirup darahnya dengan penuh rasa benci    
 Mayatnya pun masih dipukuli dan digada berkali-kali

Begitulah nasib tragis si sang raja Gandara Sangkuni
Yang terkenal sangat ahli dalam bertipu muslihat keji
Selalulah berbuat jahat dengan memfitnah di sana-sini
Akhirnya mati mengenaskan karena tingahnya sendiri

Bumi Pangarakan, Bogor
Sabtu, 26 Desember 2015 – 2i:00 WIB
 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar