Kamis, 08 November 2012

Jlitheng Suparman: Wayang for the people Dicky Christanto, The Jakarta Post, Jakarta | People | Fri, October 12 2012, 8:06 AM )


Jlitheng Suparman


To watch an entire performance of a Javanese wayang leather puppet show, which can last for up to eight hours, one must prepare one’s stamina and have the mind-set to follow the stories.
However, preparing the same amount of stamina just to watch a puppet show could be considered by some to be huge waste of energy, since people must reserve their energy to go to work the next day. Or if the show is performed during the weekend, then hanging out with family members must become the first priority.
The feeling that wayang might fail to find a place in our current lifestyles that adore speed and efficiency was what bothered Jliteng Suparman, a traditional Javanese puppeteer, or dalang, back in 2010.

At that time, Suparman thought that if no significant improvements were made, then wayang would slowly lose its charm and audience — and that would be culturally catastrophic.
“I then created a wayang climen leather puppet show, derived from the word climen, which means simplified,” he said in a recent interview. The wayang climen concept allows a puppeteer to excise all the unnecessary gestures, songs and fragments during the show and just present the important parts to save time, manpower and, of course, money. Unlike the traditional wayang puppet shows that adapt the two great Hindu tales, the Mahabharata and the Ramayana, wayang climen is allowed to adopt any stories from other cultures or even mix them with existing wayang stories.
Suparman acknowledges that he often mixes some foreign stories with traditional wayang to present today’s complexities. From a budget perspective, an eight-hour wayang leather puppet show will cost Rp 15 million (US$1,565) while Suparman’s wayang climen show will cost less than Rp 5 million. Furthermore, Suparman says the price is still negotiable. In fact, he will do a show for free if he sees that the circumstances won’t allow him to charge. However, Suparman says that he won’t sacrifice the quality of the show. Therefore, even though there have been major cuts here and there, both the plot and the dramaturgy are kept as clear and concise as possible so they won’t create any confusion for audiences.
Suparman has also avoided the usage of high Javanese, known as krama inggil, simply because most people, even most Javanese, won’t understand.
“Krama inggil is highly aesthetic yet charming and is usually used by the royal families. However, using that language right now would only create a distance and confusion between the audience and what the puppeteer is trying to say,” he explains.
He uses a mix of languages instead, combining common Javanese with a Jakarta dialect or Sundanese or even a bit of English during the show, depending on the environment. As for the music, it is all the same. Suparman has also opted to bring all kinds of music to the stage instead of only playing Javanese traditional music during the show.
Playing modern music, he says, can bring the audience even closer to the performance, because most of them are already familiar with the music. Another of Suparman’s special “tricks” is that he allows the audience to interrupt him during the show, something considered taboo by most puppeteers.
“I just want to show that everybody will be treated equally during my show. This can tighten the relationship between us the performers and the audiences,” he recalls.
Some young puppeteers have expressed their interest and asked for his “endorsement” to stage their own wayang climen. Suparman has always said to his juniors that they could perform the wayang climen anytime they want without the need to pay attention to copyrights. To him, wayang climen has been dedicated to the public and he won’t take any benefit from it.
Toward his effort in raising awareness of wayang climen, Suparman said that he has gained the support of many senior puppeteers, which could be important in gaining more support ahead. Graduating from the Surakarta-based 11 March University with major in Javanese literature, Suparman acknowledges that he has mostly taught himself how to become a dalang. He admitted to have inherited the talent from his grandfather, a dalang in Wonogiri, Central Java, and to have learned from one of his uncles, also a puppeteer.
The hardest time during his study to become a puppeteer, he recalled, was when he was challenged to breathe “soul” into his wayang puppets so people wouldn’t laugh at him when he performed during the show.
“It was from Ki Manteb Sudarsono that I learned how to use my puppets smoothly so that people would think that my puppets are alive,” he recalls.
Ki Manteb Sudarsono is famous for his skill. Manteb, who now resides in Jakarta, is widely known as the “devilish puppeteer” referring to his moves that are fiendishly difficult — if not impossible — to copy.
Besides learning from Manteb, Suparman recalled that he learned another skill no less important, chanting in Javanese, from another famous puppeteer, Ki Narto Sabdo.
The late Narto Sabdo was famous for his firm voice when chanting in Javanese during his sessions. A good voice is needed to narrate wayang puppet stories. In fact, some people might categorize a good and firm voice as the main quality that a puppeteer should have.
The last but not least, Suparman has also learned Javanese spirituality (kejawen) like fasting and doing other deeds to add to his charisma when performing with his puppets.
“I’m doing kejawen as part of my effort to present my best in performing with my puppets.”
Terjemahan bebas:
Jlitheng Suparman: Wayang Bagi Masyarakat
Dicky Christanto, The Jakarta Post, Jakarta | Orang | Fri, 12 Oktober 2012, 08:06

Untuk menonton kinerja seluruh pertunjukan wayang kulit wayang Jawa, yang dapat berlangsung selama delapan jam, seseorang harus mempersiapkan stamina dan memiliki seting pikiran untuk mengikuti cerita. Namun, mempersiapkan stamina untuk menonton pertunjukan wayang bisa dianggap menjadi pemborosan energi, karena orang harus menyiapkan energi mereka pergi bekerja keesokan harinya. Atau jika acara ini dilakukan selama akhir pekan, kemudian bergaul dengan anggota keluarga harus menjadi prioritas pertama.
Perasaan bahwa wayang mungkin gagal untuk menemukan tempat dalam gaya hidup kita saat ini yang memuja kecepatan dan efisiensi adalah apa yang
sudah mengganggu Jliteng Suparman, seorang dalang Jawa tradisional yang berkiprah di dunia pedalangan awal atau tahun 2010.

Pada waktu itu,
Jliteng Suparman berpikir bahwa jika tidak ada perbaikan pembaharuan yang signifikan, maka wayang perlahan akan kehilangan pesona dari penonton, dan itu akan menjadi musibah dan bencana besar. "Saya kemudian membuat sebuah wayang kulit climen wayang golek, berasal dari climen kata, yang berarti disederhanakan," katanya dalam sebuah wawancara baru-baru ini. Konsep climen wayang memungkinkan seorang dalang menyajikan bagian penting untuk menghemat waktu, tenaga, dan, tentu saja, uang.

Berbeda dengan pertunjukan wayang tradisional yang mengadaptasi kisah Mahabharata dan Ramayana, wayang climen diperbolehkan untuk mengadopsi cerita dari budaya lain atau bahkan campuran mereka dengan cerita wayang yang ada.
Jliteng Suparman mengakui bahwa ia sering mencampur beberapa cerita asing dengan wayang tradisional untuk menyajikan kompleksitas lakon wayang.

Dari perspektif anggaran, delapan jam wayang kulit wayang akan menelan biaya Rp 15 juta (US $ 1.565), sementara wayang
Suparman menunjukkan climen biaya kurang dari Rp 5 juta. Selain itu, Suparman mengatakan harga masih bisa ditawar. Bahkan, ia akan melakukan pertunjukan secara gratis jika ia melihat bahwa keadaan tidak akan memungkinkan dia untuk mengisi. Namun, Suparman mengatakan bahwa ia tidak akan mengorbankan kualitas pertunjukan. Oleh karena itu, meskipun telah ada pemotongan besar di sana-sini, baik plot dan dramaturgi disimpan sebagai penjelasan dan ringkasan sehingga mereka tidak akan menimbulkan kebingungan bagi penonton. Suparman juga menghindari penggunaan bahasa tinggi Jawa, krama inggil karena kebanyakan orang Jawa pun masih banyak yang belum mengerti dengan bahasa tersebut.
bahasa Krama inggil ini mengandung estetika tinggi yang biasanya digunakan oleh keluarga kerajaan.
Da setiap pertunjukannya Suparman banyak menggunakan campuran bahasa, menggabungkan Jawa umum dengan dialek Jakarta atau Sunda atau bahkan sedikit bahasa Inggris. Adapun musik yang digunakan itu semua sama. Suparman juga telah memilih dan membawakan semua jenis musik baik musik tradisional maupun musik modern karena dengan begitu, Ia dapat membawa penonton ke dalam suasana yang lebih akrab. "Saya hanya ingin menunjukkan, bahwa semua orang akan diperlakukan sama selama pertunjukan saya. Hal ini dapat mempererat tali silaturahmi antara kami para pemain dan penonton," kenangnya.

Beberapa dalang muda telah menyatakan minat mereka dan meminta "dukungan" untuk menggelar climen
wayang mereka sendiri. Suparman selalu berkata kepada juniornya bahwa mereka bisa melakukan climen wayang kapan saja mereka inginkan tanpa perlu memperhatikan hak cipta. Baginya, wayang climen telah didedikasikan untuk publik, dan ia tidak akan mengambil keuntungan dari itu. Menuju usahanya dalam meningkatkan kesadaran wayang climen, Suparman mengatakan bahwa ia telah mendapat dukungan dari dalang senior yang banyak, yang mungkin penting dalam memperoleh dukungan lebih ke depan.

Suparman lulusan Universitas Sebelas Maret jurusan sastra Jawa, Surakarta. Suparman mengakui bahwa sebagian besar ia telah  belajar sendiri bagaimana menjadi seorang dalang. Dia mengaku telah mewarisi bakat dari kakeknya, seorang dalang di Wonogiri, Jawa Tengah. Ia masih ingat saat yang paling sulit selama studi seni pedalangan, yaitu ketika ia ditantang untuk bernapas "jiwa" menjadi boneka wayang nya sehingga orang tidak akan menertawakan dia ketika tampil selama  pertunjukan wayang berlangsung. "Itu dari Ki Manteb Sudarsono bahwa saya belajar bagaimana menggunakan boneka wayang dengan sebaik-baiknya agar wayang akan Nampak seperti hidup,” kenangnya.
                        
Ki Manteb Sudarsono terkenal dengan keahliannya. Manteb, yang sekarang tinggal di Jakarta, secara luas dikenal sebagai "dalang setan" mengacu pada gerakannya yang fiendishly sulit - jika tidak mustahil - untuk menyalin.
Selain belajar dari Manteb, Suparman ingat bahwa dia belajar keterampilan lain yang tidak kalah penting yaitu tentang tembang atau nyanyian dalam bahasa Jawa. Selain dengan  dalang Ki Mantep Sudarsono, ia juga belajar dengan dalang terkenal lainnya, Ki Narto Sabdo.

Ki Narto Sabdo terkenal karena suara tegas ketika menyanyikan tembang dalam bahasa Jawa selama dalam sesi pertunjukannya. Memang, suara yang baik dan bagus sangat diperlukan untuk menceritakan lakon wayang. Bahkan, beberapa orang mungkin mengkategorikan suara yang bagus merupakan prioritas utama yang harus dimiliki dalang. Suparman juga belajar spiritualitas Jawa (kejawen). Banyak melakukan puasa dan melakukan perbuatan lain untuk menambah karisma ketika tampil dengan boneka-boneka waayangnya.

"Aku melakukan kejawen sebagai bagian dari upaya untuk menyajikan yang terbaik dalam
setiap pertunjukan."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar