Kamis, 09 Januari 2020

Nikmah Sunardjo,dkk: HIKAYAT PURASARA 3

Blog Ki Slamet 42: Wayang Islami
Juat, 10 Januari 2020 - 05.46 WIB

Image "Hikayat Purasara" (Foto: google)
B. RINGKASAN ISI CERITA

Raja Wangsapati dan istrinya Dewi Wargapati, di negeri Wirata mempunyai seorang anak perempuan yang cantik bernama Dewi Raramis, tetapi badannya berbau amis. Berkali-kali kedua orang tuanyan mengobati anaknya itu dan sudah beberapa orang tabib, tetapi tidak juga sembuh. Suatu hari Raja Wangsapati memanggil Dewi Raramis dan menyuruhnya menjadi penganak perahu dengan bayaran mengobati penyakitnya. Dewi Raramis menuruti orang tuanya pergi bersama kedua dayangnya ke tepi bengawan untuk menyeberangkan orang yang memerlukannya. Dewi Raramis hanya boleh kembali ke negerinya kalau sudah sembuh dari penyakitnya.
Purusara yang sedang berjalan bersama ketiga panakawannya itu sampailah di tepi bengawan itu, kemudian mencari penyeberangan. Purusara meminta tolong diseberangkan dan berjanji akan mengobati penyakit Dewi Raramis dengan pertolongan Lurah Semar. Lurah Semar memberikan kunyit kepada Purusara untuk dibalurkan ke seluruh tubuh Raramis sehingga sembuh. Akhirnya Dewi Raramis dapa disembuhkan oleh Purusara dan mereka pergi ke negeri Wirata. Sesuai janji Raja Wangsapati. Dewi Raramis dan Purasara pun dikawinkan. Kemudian mereka pun pulang ke negeri Suktadirja.
Purusara dan Dewi Raramis tinggal berapa lama di negeri Suktadirja. Beberapa bulan kemudian Dewi Raramis mengandung. Ketika melihat istrinya mengandung, Purusara pun pergi bertapa agar mendapat anak yang sakti. sepeninggal Purusara, istrinya yang sedang mengandung itu digoda oleh Sentanu agar mau meladeni keinginannya. Namun, Dewi Raramis menolak keinginan iparnya itu. Suatu hari Sentanu mengancam akan membunuh panakawannya kalau maksudnya tidak terkabul sehingga Dewi Raramis mencari akal agar panakawannya yang tidak berdosa itu tidak mendapat celaka. Untuk menghindari malapetaka yang akan timbul, Dewi Raramis meminta kepada Sentanu bahwa ia akan melaksanakan maksudnya kalau negeri itu diberikan kepadanya. Sentanu setuju dan akan menyerahkannya kepada Dewi Raramis. Rupanya maksud Sentanu itu diketahui oleh putranya yang bernama Raden Perbata, yang kemudian bermaksud untuk membunuh bibinya. Ketika Lurah Semar melihat Dewi Raramis hendak dibunuh oleh Raden Perbata, ia melarikan Dewi Raramis yang sedang menangis ke dalam hutan. Raden Perbata mengejar Lurah Semar yang sedang membopong Dewi Raramis masuk ke dalam hutan menghindari kejaran Raden Perbata. Anak-anak Lurah Semar turut berlari mengikuti Lurah Semar dan Dewi Raramis. Setelah mereka bertemu lalu mencari Purusara untuk mengadukan halnya. Ternyata Raden Perbata tidak melanjutkan pengejarannya terhadap Dewi Raramis, tetapi kembali ke istana.
Sentanu pergi ke istana dengan harapan Dewi Ramis mau menerima dirinya dan hasratnya terlaksana. Akan tetapi ternyata Dewi Raramis tidak berada di dalam keratonnya. Lalu ia mencari Dewi Raramis sambil memanggil-manggil nama Dewi Raramis, seperti laku orang yang kurang waras. Dewi Raramis yang melarikan diri bersama panakawannya bertemu dengan Purusara dan membangunkan suaminya yang sedang bertapa lalu mengadukan halnya. Purusara tidak mempercayai cerita istrinya. Tetapi ketika Sentanu datang dengan sikap seperti orang gila, Purusara pun percaya apa yang dikatakan oleh istrinya. Purusara menyuruh Lurah Semar membawa istrinya dari tempat itu dan ia berperang dengan Sentanu karena Sentanu memaksa Dewi Raramis mengikutinya.
Pertempuran antara Sentanu dan Purusara berlangsung dari siang hingga malam hari tanpa henti bahkan sampai berbulan-bulan karena tidak ada yang kalah dan menang sehingga kayangan menjadi goncang dan dunia menjadi rusak binasa. Mereka lupa bahwa Dewi Raramis sedang mengandung dan saatnya untuk melahirkan dengan pertolongan. Dengan pertolongan Sangyang Batara, lahirlah putra Dewi Raramis itu dengan selamat yang diberi nama Ganggasuta. Ganggasuta diasuh oleh Lurah Semar dan anak-anaknya sampai ia pandai berkata-kata dan menanyakan ayahnya yang sedang bertempur.
Batara Narada turun diutus oleh Sangyang Punggung karena kayangan goncang, Batara Narada melihat dunia menjadi hancur akibat perang yang ditimbulkan oleh dua orang bersaudara itu. Ia turun mengobati dan memperbaiki apa yang rusak dan dikembalikan lagi seperti keadaan semula sebelum terjadi peperangan oleh keduanya. Batara Narada melihat Sentanu dan Purusara berperang. Ia lalu melerai dan memisahkan keduanya dan menanyakan sebab-sebabnya, sehingga mereka pun bisa berdamai kembali seperti semula sebagai dua orang bersaudara. Dalam pembicaraan itu, Batara Narada menyebutkan bahwa kelak keturunan Purusara akan ada yang mempunyai sifat seperti Sentanu yaitu, Arjuna atau Janawi.
Sentanu yang menyadari akan kekeliruannya dan mengajak Purusara kembali ke negeri Suktadirja, tetapi Purusara yang masih merasa sakit hati tidak menjawab ajakan Sentanu. Oleh karena Sentanu tidak berhasil mengajak Purusara, ia pun pulang sendiri ke negerinya, sedangkan Purusara dengan hati yang masygul pergi mencari istrinya yang sudah pergi menuju negeri Wirata. Ketika Purusara mencari istri dan anaknya ia tersesat di dalam hutan. Saat itu ia mendengar suara anak kecil yang sedang menangis mencari ayahnya.    

 Jumat, 10 Januari 2020 – 05.54 WIB
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Lido – Bogor

Pustaka                                     
Nikmah Sunardjo, dkk
“Hikayat Wayang Arjuna dan Purusara
Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar