Rabu, 12 Februari 2020

ARJUNA DALAM EPOS MAHABHARATA 3 By Sri Guritno-Purnomo

Blog Ki Slamet 42 : "Wayang Islami"
Kamis, 13 Febuari 2020 - 11.01 WIB

D.    ARJUNA MENDAPAT AJI PANGELMUNAN
Image "Raden Arjuna" (Foto: Google)
 
Ki Slamet 42

Setelah keturunan darah kuru (Pandhawa dan Kurawa) menamatkan pendidikannya di padepokan Sokalima, mereka kembali menghabiskan masa mudanya di negara Astina. Konon, keberadaan para Pandhawa ini sangat membuat kekhawatiran para Kurawa. Hal ini karena para Pandhuputra itu telah tumbuh menjadi kesatria-kesatria yang pandai dan mumpuni, sehingga dikhawatirkan akan menjadi penghalang besar bagi para Kurawa dalam melaksanakan niatnya untuk tetap mempertahankan negara Astina, yang sekarang ini di bawah kekuasaan ayah para Kurawa (Destarastra). Oleh karena itu, mereka selalu berusaha untuk mencelakakan para Pandhawa dengan berbagai cara.
Dalam lakon Bale Sigala-gala misalnya, lakon ini menceritakan usaha para Kurawa untuk membunuh para Pandhawa beserta ibunya (Dewi Kunthi) dalam suatu perjamuan agung. Namun berkat nasehat Widura, mereka dapat menyelamatkan diri melalui lubang yang dibuat oleh Kanana (abdi Widura). Setelah dapat menyelamatkan diri, mereka lalu menyeberangi sungai Gangga, mengembara keluar masuk hutan tanpa tujuan.
Dalam pengembaraannya itu, mereka didatangi oleh Maharsi Wiyasa. Setelah Dewi Kunthi dan putra-putranya memberi penghormatan kepada orang tua itu, sang Maharsi lalu berkata,
 “Hai para cucuku, bebentengnya para kesatria darah bharata! Sebenarnya saya sudah mengetahui bahwa keadaan yang kini sedang kamu alami karena perbuatan Duryudana. Pesan saya kepada kalian, semua perjalanan hidup yang kini kamu alami, sekali-kali jangan sampai menjadikan kecil hati kalian. Ketahuilah! Semua peristiwa yang sudah kalian alami dan yang bakal kalian alammi itu nantinya merrupakan jalan menuju kemuliaan. Oleh sebab itu,, apa saja yang bakal kalian alami selanjutnya terimalah dengan tulus ikhlas, jangan mengeluh. Selain itu, saya sarankan kalian semua pergilah ke Ekacakra. Mudah-mudahan kalian di sana dapat memperoleh jalan menerima belas ksihan daeri dewa!”

Setelah berkata demikian, Maharsi Wiyasa lalu menghilang dari hadapan mereka. Konon, para Pandhawa dan Dewi Kunthi lalu pergi ke Ekacakra. Di sana, mereka menumpang di kediaman seorang brahmana yang pekerjaannya sebagai pembuat gerbah. Setelah lama di Ekacakra, maka atas anjuran kakeknya Maharsi Wiyasa, Dewi Kunthi dan para Pandhawa melanjutkan pengembaraannya ke negara Pancala untuk menambah pengalaman hidupnya. Ketika hari menjelang malam, saat mereka melakukan perjalanan ke negara Pancala, ketika perjalanan mereka baru sampai di tepi sungai Gangga, dan pada waktu itu Arjuna berjalan sendiri di muka dengan membara obor untuk menerangi jalan, agar jika ada binatang buas menyingkir. Tiba-tiba para Pandhawa dan Dewi Kunthi bertemu dengan raja raksasa duduk di atas di atas kereta, menghalangi perjalanan mereka. Raksasa itumerentangkan busur dengan panah siap di tali busurnya yang tampak sangat menyeramkan.
“Hai manusia! Apakah kalian sudah bosan hidup, berani-beraninya kalian melakukan perjalanan pada senja hari, saatnya para gandarwa dan raksasa bercengkerama bersuka ria? Manusia boleh melakukan perjalanan untuk menyelesaikan keperluannya selain di waktu senja. Jika ada manusia yang berjalan pada sore hari, ia pasti akan terkena “sambikala” (bencana), salah-salah bisa hilang nyawa”.
“Hai manusia yang berpiran kerdil! Jika kamu belum bosan hidup segeralah menyingkir dari tempat ini. Ketahuilah! Aku ini Maharaja Anggaraparna, raja raksasa yang sakti mandraguna. Oleh karena itu hutan ini pun bernama hutan Aggaraparna, sesuai dengan namaku. Hutan sepanjang sungai Gangga ini memang tempat tinggalku, dan menjadi wilayah kekuasaanku. Makanya namanya sama dengan namaku. Para dewa sekalipun tidak boleh seenaknya sendiri menginjak hutan ini, apallagi manusia. Oleh karena itu, jika kalian belum bosan hidup, cepat pergilah dari hadapanku.” Kata Anggaraparna dengan pongahnya.
Sikap pongah dan kata-katanya itu telah membuat membuat panas hati Arjuna sehingga seketika itu juga ia menjawab dengan suara yang keras,
“Hai kamu Anggaraparna! Ketahuilah, makanya saya berani menginjak hutan ini, tanpa peduli itu waktu, pagi, siang, sore atau malam hari, karena saya yakin dan percaya dengan kekuatan saya dan mampu melawan siapa saja yang berani merintangi perjalanan kami. Aku dan semua saudara-saudaraku ini sama sekali tiada takut dengan perkataanmu yang sombong itu”.
“Hai kamu raksasa busuk! Saya sudah tahu bahwa hulu sungai Gangga ini berada di puncak Himalaya, berjumlah tujuh yang pada akhirnya menyatu kembali. ketujuh sungai itu adalah sungai Gangga, Yamuna, Saraswat, Witastha, Sarayu, Gomati, dan Gandhaki. Barangsiapa yang dapat minum dari ketujuhsungai itu, semua dosa-dosanya akan terbebas”.
“Hai kamu, Anggaraparna, ketahuilah! Sungai yang suci ini ada di dalam kaswargannamanya Wetarani, sungai itu tidak boleh diseberangi oleh manusia yang mempunyai dosa. Saya mengetahui hal ini dari kakek saya, Maharsi Wiyasa”.
“Hai, kamu raksana dungu! Atas dasar apa kamu berani-beraninya melarang para Pandhawa menginjak hutan ini? walaupun saya dan saudara-saudara saya semua mandi di sungai Gangga sekalipun, kamu tidak berhak melarangnya. Kehendak hatiku, aku harus menyauk air kali Bhagirati ini, yang dapat menjadi saranan menebus dosa. Siapa saja yang ingin menghalang-halangi keinginanku untuk menyauk air sungai ini pasti saya lawan.” Jawab Arjuna.
Setelah Sang Gandarwaraja Anggaraparna mendengar jawaban Arjuna seperti itu, kekuatannya bagaikan dijajaki.  Untuk ituia segera merentangkan busu dan melepaskannya kepada para Pandhawa. Lepasnya panah dari tali busur Anggaraparna bagaikan jatuhnya hujan yang tiada henti-hentinya. Namun tidak ada satu panah pun yang dapat mengenai para Pandhawa karena berhasil ditangkis oleh Arjuna dengan baik.
“”Hai, Gandarwaraja! Ternyata panah-panah yang kamu lepaskan itu  tidak satu pun yang mengenai mengenaiku dan saudara-saudaraku. Sekarang rasakanlah balasanku, berhati-hatilah! Karena panah yang akan saya lepaskan ini bernama Bramastra, berasal  dari kadewatan tempatnya para dewata. Pada awalnya panah sakti ini berasal dari Sang Hyang Wrespati, gurunya Bathara Indra, ratunya para dewa. Sang Hyang Wrespati diberikan kepada Maharsi Bharadwaja, yang kemudian diberikan lagi kepada Maharsi Agniwesa. Dari Maharsi Agniwesa diberikan kepada guruku Resi Drona, dan akhirnya diberikan kepada saya.

Setelah sang Arjuna selesai berbicara, panah Brahmastra melesat dari busurnya bagaikan kilat dan mengenai kereta Gandarwaraja Anggaraparna. Kereta itu hancur lebur berantakan menjadi abu. Walau badan Anggaraparna tidak terkena tetapi karena saktinya panah tersebut, Anggaraparna terpental jauh dan pingsan.
Begitu mengetahui Anggaraparna jatuh pingsan, sang Arjuna segera memburunya danmelaraknya di hadapan saudara-saudarnya. Istri sang Anggaraparna yaitu Gandarwi Kumbinasi, setelah mengetahui suaminya dilarak oleh sang Arjuna, segera menghadap Yudhistira seraya berkata,
“Aduh tuan yang mulia! Mohon belas kasih paduka, sudilah kiranya memberi maaf kepada suami hamba, jangan sampai suami hamba dibunuh. Jika paduka tidak mengabulkan permintaan hamba, bunuhlah kami bersama-sama!”
“Wahai tuan yang mulia! Hamba menghadap paduka ini untuk memohon belas kasih paduka, sudilah kiranya melepaskan suami hamba. Seberapa besar kesalahan suami hamba hamba mohon paduka berkenan memberi maaf.”

Sang Yudhistira yang bersifat penyabar, pemurah, dan pemaaf, begitu  mendengar permintaan Gandarwi Kumbinasi, hatinya merasa iba dan sangat kasihan kepada raseksi tersebut. oleh karena itu, ia lalu berkata kepada adiknya Arjuna,
“Dinda Arjuna! Pria yang sudah kalah perang dan sudah tak berdaya dan tidak mempunyai kekuatan lagi, istrinya wajib melindunginya agar suaminya dapat hidup dan meminta maaf atas segala kesalahannya. Untuk itu musuhmu yang sudah tidak berdaya itu lepaskanlah.”

Setelah mendapat perintah Yudhistira, Arjuna lalu melepaskan Gandarwaraja sambil berkata,
“Hai Anggaraparna, ketahuilah! Oleh karena perintah saudara tuaku maka kamu saya maafkan dan tidak akan saya bunuh.”
“Oleh karena hamba sudah paduka kalahkan, maka hamba tidak akan menggunakan nama Anggaraparna lagi. Hamba akan menggunakan nama Cetrarata, yang artinya kereta yang serba bersinar.” Jawab Anggaraparna lalu melanjutkan kata-katanya,
 “Duh sang Arjuna! Jika paduka berkenan, hamba akan memberi “wejangan” pelajaran ilmu gaib Aji Pangelmunan, yaitu mantera yang menyebabkan manusia bisa menghilang yang umumnya hanya dimiliki oleh para gandarwa. Aji Pangelmunan yang akan hamba persembahkan kepada paduka ini namanya Aji Caksuci. Aji ini berasal dari Bathara Manu, diwejangkan kepada Bathara Soma. Dari Bathara Soma diwejangkan kepada Bathara Wiswawasu, kemudian diwejangkan kepada hamba.”
“Duhai Arjuna, mustikanya kesatria pemberani, ketahuilah! Manusia akan dapat memiliki aji pangelmunan Cakasuci, jika ia mampu melakukan “tapa brata” bersemedi yang sangat berat. Tapa berdiri dengan satu kaki, sedangkan kaki yang satunya digantung. Lamanya hingga enam bulan. Namun, aji pangelmunan yang akan hamba persembahkan ini tanpa persyaratan apapun . selain itu hamba juga akan mempersembahkan Turangga kepada paduka sesaudara. Turangga ini asanya dari kahyangan para gandarwa yang larinya sangat cepat dan selalu dapat membuat gembira yang menaiki, karena dapat sampai di mana saja sesuai dengan kehendak yang menaiki.”
“Aduh, sang Gandarwaraja! Apabila pemberian turanggamu itu untuk membalas jasaku karena telah memaafka dan melepaskanmu dari kematian, saya tidak mau menerimanya karena memberi pertolongan kepada orang lain itu memang sudah menjadi dharmanya seorang kesatria.” Demikian kata Arjuna kepada Gandarwaraja. Akan tetapi Gadarwaraja tetap berkata kepada Arjuna,
“Wahai harimaunya kesatria darah Bharata! Agar persembahan hamba tidak bertentangan dengan dharmanya kesatria dan tidak menyebabkan hutang-piutang, maka berilah saya senjata paduka yang sakti untuk menukar turangga yang akan hamba persembahkan kepada paduka sesaudara.” Jawab Gandarwaraja.
“”Gandarwaraja! Turangga pemberianmu akan saya terima dengan senang hati. sebagai gantinya senjata yang saya pegang ini akan saya serahkan kepadamu. Harapanku, mudah-mudahan kamu akan tetap menjadi mitraku yang karib untuk selama-lamanya.”  Demikian jawab Arjuna dengan penuh rasa persahabatan yang tulus.
“Sungguh mulia hati paduka, tetapi sayang paduka sekeluarga tidak disertai oleh brahmana sebagai penunjuk jalan agar para kesatria tidak keleru dalam melangkah dan selalu menjunjung tinggi dharmanya. Hal tersebut  sebagai penunjuk jalan dan guru yang tak lepas dari budi dan kebijakan dan yang memahami isi kitab Weda dan Prana.” Demikian pesan Gandarwaraja kepada Arjuna dan saudara-saudaranya. Sejenak kemudian Gandarwaraja melanjutkan melanjutkan kata-katanya,
“Ketahuilah Raden! Tidak jauh dari hutan ini ada sebuah padepokan Utacaka. Padepokan tersebut ditempati oleh Maharsi Domya, adiknya Resi Dewala. Hamba sangat setuju jika paduka sesaudara memanfaatkan Maharsi Domya sebagai penunjuk jalan.”  Demikian saran Gandarwaraja.

Sang Arjuna sangat gembira mendengar ucapan Gandarwaraja, sehingga  segera ia pun memberikan senjatanya sebagai penukar dengan turangga yang akan dipersembahkan kepada para Pandhawa. Selanjutnya Arjuna berkata,
“Oh, pembesarnya para gandarwa! Jika demikian Turangga persembahanmu itu jangan diberikan sekarang. Kelak, apabila ada keperluan akan saya minta. Sekarang izinkanlah kami melanjutkan perjalanan, semoga di lain waktu kita dapat bertemu lagi”.

Setelah sang Arjuna berkata demikian, Dewi Kunthi dan para Pandhawa segera memohon diri untuk melanjutkan perjalanannya untuk mencari padepokan Utacaka milik Maharsi Domya. Tidak lama kemudian para Pandhawa pun sampai di padepokan Utacaka. Di sana mereka diterima dengan senang hati oleh Maharsi Domya. Setelah sang Maharsi memberi anugerah doa dan mantra kepada para Pandhawa, Dewi Kunthi dan para Pandhawa segera mohon diri untuk melanjutkan perjalanannya ke Negara Pancala dengan diantar oleh Maharsi Domya.

—KSP 42—
Kamis, 13 Februari 2020 – 06.24 WIB

R E F E R E N S I :
Sri Guritno – Purnomo Soimun HP,
KARAKTER TOKOH PEWAYANGAN MAHABARATA
Proyek Pemanfaatan Kebudayaan
Direktorat Tradisi dan Kepercayaan
Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya
Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
Jakarta 2002


Selasa, 11 Februari 2020

"ARJUNA DALAM EPOS MAHABHARATA 2" By Sri Guritno-Soimun HP

Blok Ki Slamet 42 : "Wayang Islami"
Rabu, 12 Febuari 2020 - 02.47 WIB 


C.           ARJUNA BERGURU KEPADA DRONA

Resi Drona
Arjuna
Sebagai titah kesayangan para dewa, Arjuna dan keempat saudaranya tidak mendapatkan kesulitan yang berarti dalam menerima ajaran-ajaran yang diberikan oleh pamannya (Widura), sehingga mereka tumbuh menjadi kesatria-kesatria yang pandai dan berbudi luhur. Para Pandhawa itu sering kali juga memanfatkan waktunya untuk bermain-main dengan saudara-saudara tuanya, yaitu Kurawa.

Pada suatu hari, Pandhawa dan Kurawa tengah bermain bola di pinggiran kota Astina. Ketika mereka sedang asyik-asyiknya bermain, tiba-tiba bola dan cincin sulung Pandhawa (Yudistira) jatuh ke dalam sumur yang sangat dalam sehingga tidak dapat mengambilnya. Para Pandhawa dan Kurawa hanya berkumpul kebingungan di sekitar sumur itu sembari memandang bola dan cincin yang tampak bersinar dari dalamnya sumur itu.

Di tengah-tengah kebingungan mereka, tiba-tiba muncullah seorang resi berkulit hitam, memandang para Pandhawa dan Kurawa dengan tersenyum. Setelah sang Resi itu memperhatikan mereka dengan seksama dan mengetahui duduk permasalahannya maka berkatalah ia,

“Hai, para taruna! Kalian semuanya kan para kesatria, tetapi menghadapi pekerjaan yang mudah saja tidak mampu menyelesaikan? Lalu apa yang nantinya yang akan kalian andalkan untuk melindungi rakyat kecil dan para pertapa?”

Mendengar teguran yang bernada setengah mengejek itu, mereka tidak memberi tanggapan tetapi justru saling pandang-memandang dengan persaan malu. Ketika itu, sang Resi lalu melanjutkan perkataannya,

“Coba menyingkirlah kalian semuanya, saya akan mengambil bola dan cincin dari dalam sumur itu.”

Setelah berkata demikian, sang Resi lalu mengumpulkan rumput-rumput dan menganyamnya menjadi “sorong” diikat dengan tali rumput lalu dimasukkan ke dalam sumur untuk menimba bla yang nampak mengapung. Setelah tali ditarik, bola yang ada di dalam sumur itu tiba-tiba telah berada di tangan sang Resi.

Menyaksikan cara sang Resi dalam mengambil bola tersebut, para Kurawa bersorak-sorai kegirangan. Tidak lama kemudian, sang Resi bersabda,

“Hai, para satria muda! Perbuatan yang baru saja kalian saksikan itu disebut perbuatan dengan menggunakan akal budi. Di samping itu, ada lagi yang disebut kesaktian. Pengaruh kesaktian ini dapat menimbulkan kekuatan yang tidak dapat diterima oleh akal budi. Coba kalian perhatikan panah yang saya pegang ini. panah ini namanya Rodhadhedhali yang terlepas dari busurnya melesat bagaikan kilat menyambar-nyambar di udara. Namun pada akhirnya panah itu meluncur ke dalam sumur, mengambil cincin Yudistira dari dasar sumur itu lalu menyerahkannya kepada sang Resi.

Begitu menyaksikan peristiwa yang dilihatnya itu, para Kurawa menjadi semakin takjub. Mereka bertepuk tangan dan bersorak-sorak kegirangan itu terdapat seorang bocah tampan yang tidak ikut bergembira seperti teman-temannya. Ia justru menjauh dengan wajah muram menampakkan rasa kesedihan. Sang Resi yang sejak awal memperhatikan gerak-gerik bocah itu lalu menghampirinya sambil bertanya,

“Hai, bocah tampan! Mengapa kamu tidak ikut bergembira seperti teman-temanmu yang lain?”

“Bagaimana saya dapat ikut bergembira melihat kepandaian orang lain yang menakjubkan, padahal saya sendiri tidak mampu melakukannya!”, jawab bocah itu.

“E... e... e...! tajam sekali perasaanmu, nak! Coba katakan, siapa namu bocah tampan?”  tanya sang Resi.

Anak itu menjawab, “Nama saya Arjuna alias Pamadya! Maaf, jika tidak keberatan izinkanlah saya bertanya! Apakah mungkin saya dapat mempunyai kepandaian dan kesaktian seperti sang Resi?”

“Pertanyaanmu itu sangat aneh! Apabila kamu mau mempelajarinya dengan tekun, mengapa tidak bisa? Sebab semua kepandaian dan kesaktian itu bisa dimiliki, ya harus diusahakan dengan belajar dan berlatih secara sungguh-sungguh. Jika semuanya itu dapat kamu lakukan dengan baik, mungkin justru dapat melebihi kepandaiaku.” jawab sang Resi.

“Jika demikian, izinkanlah saya berguru kepada paduka, semoga paduka berkenan menerimanya.  O... iya, jika tak keberatan saya juga ingin bertanya, paduka ini siapa dan dari mana asalnya?”

“ Nama saya Resi Kumbayana alias Drona. Tempat tinggal saya di Padepokan Sokalima. Jika memang besar keinginanmu dan mantap tekadmu, saya tidak merasa keberatan menjadi gurumu,”  Jawab Resi Drona.

Permintaan Arjuna menjadi murid Drona tersebut ternyata juga diikuti oleh keempat saudaranya, bahkan para Kurawa di bawah pimpinan Duryudana pun juga ikut-ikutan ingin berguru kepada Drona. Mendengar permintaan para Pandhawa dan Kurawa itu, Resi Drona hanya menangguk-angguk sambil berkata-kata,

“Ya..., ya...jika kalian semua ingin berguru kepadaku, saya tidak keberatan. Sekarang kalian semua pulanglah dan mintalah izin kepada orang tua kalian. Jika memang diizinkan, datanglah ke padepokanku, tempat tinggalku juga pantas untuk berguru para kesatria.”

Konon para Pandhawa dan Kurawa lalu pulang untuk meminta izin kepada orang tua mereka. Setelah mendapat izin, mereka bersama-sama datang ke padepokan Sokalima. Sampai di tempat tujuan, mereka disambut oleh Resi Drona dengan ramah. Mulai saat itulah Pandhawa dan Kurawa menjadi murid Resi Drona. Namun sebelum mereka mendapat pelajaran dari sang guru. Resi Drona ingin mengetahui kecerdasan para calon murid-muridnya. Untuk itu sang Resi Drona bertanya kepada mereka,

“Wahai para siswaku kesatria muda Pandhawa dan Kurawa! Apakah kalian semua mengerti penghormatan apa yang pantas diberikan oleh seorang murid terhadap gurunya? Coba kalian renungkan sejenak sebelum menjawab pertanyaanku ini”.

Para Kurawa yang kurang memperhatikan pertanyaan sang guru, segera menjawab pertanyaan itu dengan jawaban bermacam-macam. Mereka yakin akan kebenaran jawabannya bahwa penghormatan murid terhadap seorang guru itu harus mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Namun seberapa banyak/sedikitnya kebutuhan itu jelas sudah ditentukan. Oleh karena itu, mereka hanya saling pandang memandang tidak segera memberi jawaban.

Sebaliknya, para Pandhawa pun masih merenungkan pertanyaan gurunya itu. Setelah lama tidak ada yang memberi jawaban, Arjuna memberanikan diri menjawab,

“Penghormatan seorang murid terhadap gurunya, itu hanya besarnya tekad, melaksanakan semua ajaran dan perintahnya serta menjauhi larangan-larangannya.” Jawab Arjuna.

Begitu mendengar jawaban Arjuna, Resi Drona merasa lega sambil tersenyum mengangguk-angguk, sedangkan Kurawa yang menyaksikan sikap gurunya itu hanya terbengong sembari saling berpandangan. Sungguhpun demikian, mereka semua tetap diterima sebagai murid Resi Drona dengan tidak ada perbedaan, mereka diperlakukan sama. Adapun pelajaran yang diberikan sang guru kepada murid-muridnya lebih diutamakan pada masalah keprajuritan, seperti ketrampilan menggunakan berbagai macam senjata, tipu muslihat perang, merusak barisan musuh, dan sebagainya. Resi Drona memang menguasai semua pengetahuan tentang keprajuritan sehingga mendapat julukan prajurit maharata yang ulung, artinya bahwa ia seorang prajurit yang dapat memimpin barisan kereta kuda, barisan gajah maupun daratan. Ketrampilannya menggunakan senjata kadewatan dan keberaniannya memimpin barisan perang tidak berbeda dengan kemampuan Resi Bisma dan Prabu Drupada, karena mereka memang sama-sama guru, yaitu Maharsi Ramaparasu.

Tidak diceritakan sampai berapa bulan atau berapa tahun lamanya para kesatria Pandhawa dan Kurawa berguru kepada Rsi Drona, tahu-tahu sang guru telah merasacukup memberi pelajaran kepada murid-muridnya. Untuk menambah rasa kedekatan antara guru dan murid, Resi Drona lalu memerintahkan punakawannya untuk menyiapkan hidangan makan malam. Ketika guru dan murid-muridnya sedang bersantap malam, hembusan angin yang keras tiba-tiba memadamkan pelita yang meneranginya sehingga memaksa mereka bersantap dalam kegelapan. Namun kejadian itu telah memberi inspirasi Arjuna untuk berlatih memanah dalam kegelapan. Sejak saat itulah Arjuna berlatih memanah pada malam hari. Oleh karena kemauannya yang besar, maka pada akhirnya Arjuna menjadi seorang murid yang ahli dalam seni memanah, meskipun keadaan di sekitarnya gelap gulita. Hal ini membuat Resi Drona merasa bangga sehingga dirangkullah muridnya itu seraya berkata,

“Arjuna, aku berjanji kepadamu bahwa tidak adaseorang pun di dunia ini yang mampu menandingi keahlianmu sebagai seorang pemanah!”

Pada suatu hari, murid-murid Resi Drona, atas izinnya melakukan perburuan binatang di hutan dengan disertai seekor anjing. Dalam perburuan itu, anjing tersebut tersesat sampai jauh ke dalam hutan yang lebat tempat Ekalaya – seorang pangeran dari Nisida – sedang mengembara. Begitu mencium bau Ekalaya, anjing itu menyalak-nyalak keras sekali. Namun dengan sigapnya Ekalaya segera merentangkan busurnya, kemudian melepaskan tujuh anak panah sekaligus ke arah datangnya suara. Walaupun anjing itu terlihat, tetapi tujuh anak panah yang menerobos kegelapan itu mengenai moncong anjing tersebut sehingga terhentilah suara salakan anjing itu. Ketika anjing itu kembalikepada tuannya, Arjuna merasa terkejut melihat moncong anjingnya tersumbat oleh tujuh anak panah. Oleh karena itu, ia segera mencari pemilik anak panah yang telah menyengsarakan anjingnya.

Dalam pencarian itu, Arjuna bertemu dengan Ekalaya. Maka bertanyalah Arjuna kepada Ekalaya,

“Siapakah nama tuan? apakah tujuh anak panah yang menancap di moncong anjing saya itu milik tuan?” tanya Arjuna.
“Nama saya Ekalaya dari Nisida dan tujuh anak panah yang menancap di moncong itu memang milik saya.” Jawab Ekalaya.

“Lalu dari manakah tuan belajar memanah?” tanya Arjuna lagi dengan rasa kagum.

“Guru saya bernama Resi Kumbayana alias Drona dari Sokalima.” Jawab Ekalaya.

Setelah mereka berbincang-bincang, keduanya bersepakat untuk mengadakan pertandingan memanah. Namun Arjuna ternyata tidak dapat mengimbangi kepiawaian memanah Ekalaya sehingga harus mengakui kekalahannya.

Menurut jalan ceritanya, Arjuna lalu menemui gurunya dan berkata bahwaRsi Drona dalam mengajarkan ilmu memanahnya tidak sepenuh hati dan pilih kasih. Padahal Resi Drona pernah berjanji bahwa dirinyalah yang akan menjadi pemanah terpandai di dunia. Mendengar tuduhan muridnya semacam itu, Resi Drona terpaku keheranan, walaupun sebenarnya semua ilmu memanahnya telah diturunkan kepada Arjuna. Sungguhpun demikian, Arjuna tetap menuduhnya dengan bukti yang tidak dapat disanggah lagi oleh gurunya.

Akhirnya Resi Drona lalu membimbing Arjuna kembali ke hutan untuk menemui Ekalaya. Begitu melihat kedatangan sang Resi yang selama ini dianggap sebagai gurunya, Ekalaya menyambutnya dengan sujud di kaki Resi Drona seraya bersimpuh di tanah.

Dalam pertemuan antara guru dan murid itu, Resi Drona akhirnya meminta Ekalaya menunjukkan kesetiaannya dengan bukti-bukti yang nyata. Maka berkatalah Ekalaya kepada Resi Drona,

“Katakanlah, apa permintaan guru kepada hamba ini? tiada daksina di dunia yang takkan hamba berikan kepada guru yang terhormat.” Jawab Ekalaya meyakinkan gurunya.

“Baik, kalau begitu berikan kepadaku ibu jari tangankananmu!” kata Resi Drona.

Tanpa merasa ragu sedikit pun dan dengan senang hati Ekalaya memotong ibu jari tangan kanannya, kemudian menyerahkannya kepada Resi Drona. Setelah kehilangan ibu jari tangan kanannya, ketrampilan memanah Ekalaya sudah tidak seperti dahulu lagi sehingga Arjuna sudah tidak merasa iri hati lagi.

Pada suatu hari Resi Drona mengumpulkan semua murid-muridnya. Setelah semuanya berkumpul, sang Resi Drona berkata,

“Hai para siswaku semuanya! Kalian sudah saya didik berbagai pengetahuan berperang dan menggunakan berbagai jenis senjata, sehingga apabila sewaktu-waktu diminta menjadi senapati perang tidak akan mengecewakan. Selain itu, masalah yang berkait dengan tata cara memimpin kerajaan, menegakkan keadilan, dan mengasuh rakyat kecil juga sudah saya ajarkan kepada kalian semuanya. Kini sudah tiba saatnya saya harus mengetahui hasil pelajaran yang sudah kaian peroleh. Oleh sebab itu, tunjukkanlah rasa baktimu terhadap guru. Musuhku yang sangat sombong dan senang mempermalukan orang lain tanpa dosa, yakni Prabu Drupada Pancalaradya dan pengikutnya tangkaplah dan bawalah ke hadapanku, tetapi sekali-kali jangan kalian bunuh.”

Alkisah Resi Drona memerintahkan Duryudana dan Karna untuk menangkap Drupada hidup-hidup. Akan tetapi, mereka gagal melaksanakan tugas gurunya. Selanjutnya, Resi Drona mengirim Pandhawa dengan misi yang sama. Pertempuran antara pasukan Pandhawa dengan pasukan Drupadaberlangsung sangat seru. Namun pada akhrnya pasukan Drupada dapat dikalahkan, sedangkan Drupada sendiri dapat ditangkap hidup-hidup oleh Arjuna, kemudian diserahkan kepada guru Drona.

Konon, setelah para Pandhawa berhasil melaksanakan tugas gurunya dengan baik dan telah dinyatakan selesai dalam berguru mereka bersama-sama dengan para Kurawa kembali ke Astina. Mereka datang ke Sokalima hanya kadang kala. Sungguhpun demikian, Resi Drona tetap dapat memahami sifat-sifat dan kebiasaan yang dilakukan oleh para muridnya, sehingga dibenaknya muncul pemikiran untuk memberikan kasih sayang sesuai dengan kesungguhan dalam berguru dan jasa mereka masing-masing.

Arjuna, pengah Pandhawa dipandangnya sebagai murid yang berbakti dan sangat setia kepada gurunya. Arjuna juga dipandang sangat perhatian terhadap setiap ilmu yang diberikan kepadanya. Oleh karena itu, Resi Drona menganggapnya sebagai murid yang memiliki kelebihan jika dibandingkan dengan murid-murid yang lainnya. perhatiannya terhadap semua ilmu didasarkan atas rasa cinta sehingga setiap ilmu yang diajarkan oleh Resi Drona betul-betul dapat dikuasai.

Pada waktu Resi Drona menyaksikan sepak terjang Arjuna ketika menggempur pasukan Pancalaradya dan menangkap Drupada hidup-hidup, Resi Drona sudah merasa kalah dengan kemampuan muridnya itu. Kelebihan Arjuna adalah dengan menggunakan senjata panah, di mana sekali merentangkan busur dapat melepaskan lima puluh anak panah sekaligus.

Pada suatu hari, Arjuna diminta gurunya untuk menghadap seorang diri. Ketika ia menghadap, setiap tingkah laku dan sopan santunnya selalu diperhatikan gurunya tanpa henti-hentinya. Sesungguhnya keinginan Rsi Drona agar Arjuna menghadap seorang diri ini sudah lama direncanakan. Akan tetapi, setelah berhadapan langsung, Arjuna tidak segeraa diberi perintah, walaupun ia menunggu-nunggu cukup lama. Sebaliknya Resi Drona justru menjadi bingung dalam memulai pembicaraan. Namun setelah menenangkan pikirannya sejenak, sang guru tampak tersenyum sambil berkata,

“Hai Arjuna, murid yang berbakti terhadap guru! Sepertinya hatimu agak terkejut karena saya panggil secara mendadak, seperti mencari lengahnya saudara-saudaramu. Hatinya sendiri sebenarnya sangat berat karena terpaksa harus menceritakan apa-apa yang mestinya tidak kamu inginkan”.

“Wahai sang guru! Apa yang menjadi kemauan sang wipra pendita), sebaiknya segera guru katakan. Sungguh, hamba akan melaksanakan.” Jawab Arjuna.

Jawab sang guru,
“Baik . . . baik . . . Arjuna! Sikap seperti itu memang sudah menjadi kewajiban seorang murid terhadap gurunya. Ketahuilah Arjuna, tampaknya memang sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa kitaharus mengalami peristiwa yang mengerikan. Maka dari itu sebisa-bisanya kita harus menyiapkan apa-apa yang bisa kita siapkan”.

Jawab Arjuna,
“Wahai sang Wipra! Mohon dimaafkan atas kebodohanku karena saya belum mengerti apa keinginan paduka”.

“Ya karena bahayanya peristiwa yang bakal terjadi dan absurdnya masalah yang harus saya katakan, sampai susah untuk menjelaskan dengan kata-kata yang sederhana. Tetapi baiklah, masalah ini akan saya jelaskan melalui cerita, coba perhatikanlah!”

“Saya mempunyai pusaka berupa busur namanya Gandhewa. Busur ini dahulu kepunyaan Bathara Surapati (Indra)dan mempunyai kekuatan, jika digunakan dalam peperangan, dapat melepaskan panah sakti sampai beribu-ribu bahkan beratus-ratus ribu tidak akan habis, menurut keinginan yang menggunakannya. Busur ini dahulu berasal dari guru saya, seorang brahmana yang sakti bernama Begawan Ramaparasu. Bisanya saya memiliki karena dari usahaku yang pada waktu itu sang Begawan berkenan membagi-bagi saya menghadap sang Begawan paling belakangan. Ketika ituBegawan Ramaparasu tinggal memegang dua buah busur. Kedua busur itu, yang satu bernama Bargawa yang menyebabkan moksanya sang Begawan di dalam akhir menjadi tertunda. Sedangkan busur yang kedua bernama Gandhewa yang kini saya miliki, yang seharusnya sudah tidak diberikan lagi kepada siapa pun.

“ketahuilah Arjuna! Setelah busur Gandhewa ini menjadi milikku, sungguh, tidak ada seorang pun yang berhak menerima pusaka warisan ini, kecuali anakku lanangHaswatama. Namun mengingat besarnya rasa kasih sayangku kepadamu karena setia baktimu terhadap guru, maka busur Gandhewa ini terpaksa harus saya serahkan kepadamu, tetapi dengan janji yang harus kamu laksanakan . . . . . . . . “

“Sang guru yang saya hormati! Perkenankanlah hamba memotong pembicaraan paduka, janji seperti apa yang harus hamba laksakan, sudilah kiranya guru segera mengatakan.” Kata Arjuna.

“Arjuna, muridku yang pandai dan berbudi luhur! Permintaanku yang kamu harus laksanakan itu, apabila sampai pada saatnya nanti, kamu harus bersedia perang tanding melawan saya.”  Jawab Resi Drona.

“Aduh sang guru yang bijaksana dan yang selalu saya hormati! Saya tidak sampai hati jika harus melakukan keinginan guru. Bagaimana duduk permasalahannya sehingga guru mempunyai keinginan seperti itu. Padahal kesetiaan dan bakti saya terhadap guru itu benar-benar tulus, tidak terkotori oleh perbuatan yang munafik, apalagi berkhianat.” Jawab Arjuna.

Tanggapan sang guru,  “Wahai Kesatria pahlawannya dunia, ya . . . , karena setia baktimu yang timbul dari hati yang suci itu yang kuasa menggerakkan hati saya harus menyayangimu melebihi kasih sayang yang saya berikan kepada anak laki-lakiku sendiri. Namun mengenai janji yang kamu laksanakan itu, tentunya bukan yang saya inginkan. Oleh karena itu, walaupun peristiwa ini nantinya harus terjadi tetapi hatiku tetap masih sayang kepadamu.  Ya . . . . , itulah sebabnya pekerjaan yang saya harus jalani, saya katakan absurd. Tetapi . . . , sudahlah! Tidak ada manfaatnya jika masslah ini dipikirkan sampai sedih karena kehendak yang kuasa sudah menentukan demikian. Kini yang harus dipikirkan adalah membenahi apa-apa yang harus dilakukan!”

Sang Arjuna yang sejak awal mendengarkan sabda gurunya dengan serius, wajahnya menampakkan rasa sedih yang cukup mendalam. Namun karena perintah sang guru itu dilandasi oleh rasa kasih sayang, maka dengan berat hati Arjuna menyanggupinya. Setelah Arjuna menyanggupinya, sang guru kemudian menyerahkan busur Gandhewa kepada murid kesayangannya itu
—KSP 42—
Sabtu, 08 Februari 2020 – 15.06 WIB

R E F E R E N S I :
Sri Guritno – Purnomo Soimun HP,
KARAKTER TOKOH PEWAYANGAN MAHABARATA
Proyek Pemanfaatan Kebudayaan
Direktorat Tradisi dan Kepercayaan
Deputi Bidang Pelestarian dan Pengembangan Budaya
Badan Pengembangan Kebudayaan dan Pariwisata
Jakarta 2002