Kamis, 28 Maret 2013

Wayang Beber Nyaris Punah


TEMPO.CO - Rabu, 27 Maret 2013 | 03:02 WIB
Pementasan "Wayang Beber" oleh Ki Dalang Supani

TEMPO.CO, Solo-Wajah Ki Dalang Supani terlihat sumringah usai mementaskan wayang beber di Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo, Senin malam 25 Maret 2013. Selama ini, dia lebih sering mendalang dari desa ke desa di wilayah Pacitan, Jawa Timur.

Pertunjukan wayang beber memang merupakan kesenian yang sudah langka dan terpinggirkan. Popularitasnya kalah jauh dibanding dengan wayang kulit, terutama di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Padahal, pertunjukan ini sarat dengan kearifan lokal masyarakat Jawa.

Salah satu pemerhati budaya, Suprapto Suryodarmo menjelaskan bahwa wayang beber memiliki sumber cerita yang berbeda dengan wayang kulit. "Wayang beber mengambil kisah dari cerita Panji," katanya. Cerita tersebut berisi kisah asmara Panji Asmarabangun yang telah berusia ratusan tahun.

Semula, cerita Panji yang berlatar di Kerajaan Kediri di sekitar abad XII tersebut berkembang di daerah Jawa Timur. Cerita itu terus berkembang sehingga mempengaruhi kebudayaan dari ujung Jawa Timur hingga Jawa Barat. "Saat ini cerita Panji sering ditemukan dalam bentuk tari topeng di sejumlah daerah," kata pengasuh Padepokan Lemah Putih tersebut.

Namun, kesenian wayang beber ini akhirnya tergusur oleh zaman. Kesenian wayang kulit mulai berkembang di akhir masa Majapahit. Berbeda dengan wayang beber, wayang kulit mengambil latar cerita dari kisah Mahabharata dan Ramayana. "Harus diakui bahwa cerita itu berasal dari India," kata Suprapto.

Kurator Bentara Budaya Balai Soedjatmoko Solo, Ardus Sawega menyebut bahwa wayang beber merupakan kesenian yang sangat langka. Jejak artefak lama keberadaan wayang beber di masa lampau hanya ditemukan di Pacitan dan Wonosari. "Artefak itu diperlakukan sebagai pusaka yang dikeramatkan," kata Ardus.

Dia juga mengatakan bahwa wayang beber merupakan jejak nyata kebudayaan masyarakat Jawa di masa lalu yang sangat kompleks. Cerita Panji yang menjadi latar memiliki pengaruh hingga ke seluruh Jawa, Sumatera hingga Kalimantan. Di Jawa, cerita Panji beranak pinak menjadi sejumlah folklore seperti Timun Emas, Ande-ande Lumut, Keong Emas dan Golek Kencana.

AHMAD RAFIQ

Jumat, 18 Januari 2013

“Pentas Wayang Kulit Purwa”



Denmas Priyadi | Sabtu, 19 Januari 2013 | 09:30 WIB


Pentas Wayang - http://slameti.blogspot.com
Pentas Wayang
DENMAS PRIYADI BLOG - slameti.blogspot.com - Sebagaimana kita ketahui bahwa wayang adalah salah satu bentuk kesenian Indonesia yang sengaja diciptakan oleh para penyebar agama Islam, (Wali) dipergunakan sebagai media da’wah. Oleh karena itu dalam praktik pertunjukannya pun banyak dipengaruhi oleh ajaran Islam baik dari ceritanya, perlengkapan, dan seperangkat gamelan sebagai instrumen musik pengiring pentas pertunjukan.

Ada beberapa faktor yang benar-benar harus diperhatikan dalam pentas pertunjukan wayang agar berjalan dengan baik, yaitu: Lakon (cerita), Perlengkapan yang terdiri atas boneka wayang, kelir, belencong, seperangkat istrumen musik gamelan, dan lain-lain. Dan Para pemain seperti dalang, nayaga, waranggana serta Pertunjukannya itu sendiri.

Pentas pertunjukan wayang pada umumnya diselenggarakan pada saat malam hari. Ada juga yang dilaksanakan pada siang hari, yaitu jika pertunjukan wayang itu dimaksudkan untuk 'ngeruwatsebagai upacara ritual agar diberikan keselamatan oleh Tuhan. Berikut adalah bagan dan perlengkapan yang harus disiapkan dalam sebuah pentas pertunjukan wayang yang penulis kutip dari buku “Unsur Islam Dalam Pewayangan” halaman 132-134.
Bagan pentas pertunjukan wayan (Foto: SP)
Dahulu pentas pertunjukan wayang diadakan di antara rumah dan balairung yang dinamakan “pringgitan”. Di tempat itu dipasang “kelir” kain mori berwarna putih dengan panjang sekitar 4 meter, dan lebar 1,25 meter.  Di bawah kelir terdapat dua buah gedebog, batang pisang yang diletakkan secara rebah berjajar atas dan bawah dengan pangkal pisang saling bertentangan dengan ditopang oleh patok dari kayu berjajar yang di bawahnya memakai telapak kaki disebut tapak dara, telapak merpati. Pada gedebog atas dan kanan-kiri ditancapkan boneka wayang berjajar secara urut mulai dari tepi untuk wayang yang tinggi dan besar. Di tengah sengaja dibuat kosong karena difungsikan sebaga arena gelanggang pentas wayang yang dimainkan oleh dalang.namanya Panggungan atau Paseban dengan lebar 1,60 meter.

Untuk hiasan kelir biasanya pada setiap sisi-sisinya dirangkap dengan kain  hitam, biru tua atau merah dengan lebar sekitar 0,90 meter. Sisi bawah dinamakan palemahan, dan sisi atas dinamakan pelangitan. Kanan-kirinya memakai tali, dimasukkan kayu bulat untuk menarik sligi yang di bawahnya ditancapkan pada gedebog pisang. Bagian atas masuk ke blandar bambu. “Palemahan dan “Pelangitan” tepinya menggunakan tali untuk palemahan paka tancapan pada gedebog yang dinamakan “placak”. Biasanya terbuat dari kuningan atau emas tiruan, ada juga yang menggunakan besi. Sedangkan kolong untuk mengkaitkan tali kelir pada blandar bambu. Gedebog yang atas sebagai palenggahan wayang raja, atau para satriya, sedang gedebog bawah sebagai paseban untuk kaum sudra dan hamba sahaya.

Belencong adalah lampu yang digantung di atas kepala dalang. Jarang antara lampu dan kepala dalang biasanya berjarak 0,90 meter dan antara belencong dan kelir  0,40 meter, ini dimaksud agar Nampak jelas muka boneka wayang. Kotak,  tempat kelebihan wayang diletakkan sebelah kiri dalang.

Setelah selesai mengatur wayang sebagai sumpingan, wayang yang lain(dudahan) diatur sebagai berikut:

1.      Di atas eblek di atas kotak adalah:
a.       Para pandita, cantrik
b.      Parekan, dagelan
c.       Eblek bawah, hewan-hewan hutan, kereta dan senjata

2.      Yang berada di kotak
a.       Para patih
b.      Para kurawa, termasuk patih Sengkuni dan pandita Durna
c.       Punggawa
d.      Raksasa
e.       Di eblek bawah Dewa, ketek dan setan

3.      Wayang sumpingan kanan, disiapkan di gedebog kanan bawah
4.      Wayang sumpingan kiri, disiapkan di gedebog sebelah kiri bawah.

Referensi
Drs. H.Effendi Zarkasi. “Unsur Islam Dalam Pewayangan”: ALFA DAYA. Jakarta

   

Selasa, 15 Januari 2013

Wayang Kulit Kolaborasi Dipatenkan


SuaraMerdeka.com | 10 Juni 2012 | 16:27 wib   
KOLABORASI: Mengawali pentas wayang kulit kolaborasi, putri Pak Harto Titik Hediati (kiri) berkenan menyerahkan tokoh wayang Semar kepada Begug Poernomosidi (kanan). (suaramerdeka.com/ Bambang Purnomo)

WONOGIRI, suaramerdeka.com - Wayang kulit kolaborasi, yang dipadukan dengan wayang orang, tari-tarian, lawak, kesenian reog dan musik campursari serta dangdut, dipatenkan sebagai karya seni Kanjeng Pangeran Adipati Anom (KGPAA) Candra Kusuma Sura Agul-agul Begug Poernomosidi.
''Itu sudah saya patenkan, dan menjadi sajian seni untuk masyarakat dalam dan luar negeri,'' tegas Begug.
Penegasannya ini, disampaikan Jumat (8/6) malam, ketika menyampaikan sambutan pada upacara haul Pak Harto, yang dimeriahkan dengan pagelaran wayang kolaborasi. Acara wayang kolaborasi semalam suntuk ini, dipentaskan di Monumen Ibu Tien Soeharto, Jaten Kabupaten Karanganyar, kilometer 12 Solo-Karanganyar.

Malam itu, digelar lakon Mbangun Candi Sapto Argo yang dimainkan lima dalang. Yakni, Ki Widodo Wilis, Ki Eko Sunarsono, Mbah Bagong, Ki Sigit Endrat dan Ki Bodronoyo Begug Poernomosidi. Pagelaran wayang kolaborasi ini, dipadukan dengan sajian tari tradisional Jawa ''Bedaya Parang Kencana,'' fragmen wayang orang, kesenian reog Ponorogo, lawak dan musik campursari. Dalam pagelaran tersebut, tampil sebanyak 25 waranggana, termasuk pesindhen pria Prasetya.

Rumah pendapa Monumen Ibu Tien Soeharto di Jaten Karanganyar, terasa sempit untuk pagelaran wayang kolaborasi yang terkesan sebagai karya seni yang megah tersebut. Mengawali pentas, keluarga Cendana yang diwakili Titik Hediati Soeharto, berkenan menyerahkan tokoh wayang Semar Bodronoyo kepada KGPAA Candra Kusuma Sura Agul-Agul Begug Poernomosidi.

Semar, dikenal sebagai tokoh panakawan jelmaan dewa, yang juga memiliki sebutan Ki Sampurnajati, yang legendaris dan kaya mitos. Usai tokoh wayang diserahkan, para pengrawit langsung menyajikan nyanyian dari Sabang Sampai Merauke dengan iringan instrumen gamelan. Syair lagu perjuangan karya R Sunaryo ini, yang dibawakan bareng oleh paduan suara para waranggana. Baru kemudian disusul dengan nyanyian agamis Slawatan, sebelum masuk ke sajian inti pagelaran wayang kulit semalam suntuk.

Begug yang mantan Bupati Wonogiri dua periode ini, mengatakan, kiat menciptakan wayang kolaborasi menjadi tontonan dan  sekaligus tuntunan serta tantangan, adalah merupakan upaya agar wayang kulit yang telah diakui dunia, sebagai budaya adiluhung bangsa Indonesia (setelah keris dan batik) ini, keberadaannya tetap lestari.

''Dengan memadukan kesenianan lain dalam sajian kolaborasi itu, tujuannya agar masyarakat penontonnya tidak jenuh atau bosan. Sekaligus ini sebagai sentuhan inovasi dalam penggarapan kesenian wayang,'' kata Begug. (Bambang Purnomo/CN27)

Rabu, 26 Desember 2012

Pikiran Rakyat Online: "GILIRAN WAYANG TAVIP CIPTAKAN TAWA" - RETNO HY/"PRLM" - Selasa, 18 Desember 2012


RETNO HY/"PRLM"
Gelar Wayang Tavip di Lapangan Gasibu Bandung

BANDUNG, (PRLM).- Memasuki malam kedua, Senin (18/12/12), gelaran HelarWayang 2012 bertempat di Lapangan Gasibu Bandung giliran dalang wayang Muhammad Tavip (47) mengundang gelak tawa. Cerita aktual seputar kondisi yang tengah terjadi dimasyarakat pada umumnya menjadi alur cerita menarik untuk dinikmati.

Seluruh tokoh wayang yang terbuat dari plastik dan dimainkan hampir mirip dengan wayang kulit dan mendapat sentuhan teknologi dan menggunakan pencahayaan layaknya pembuatan film.
Penonton yang duduk menghadap layar berteman minuman hangat disuguhi cerita tentang sepak terjang hakim yang melakukan praktek jual beli keadilan, pemimpin yang korupsi, hingga ulah para bakal calon (balon) pemimpin daerah yang hendak manggung.

Peristiwa cukup mengundang tawa terjadi saat seorang biduanita dengan pakaian serba ketat menyanyikan lagu "Oncom Garing" milik Bungsu Bandung. Gerakan dan gaya panggung didukung suata yang sangat sensual membuat geger undangan pertemuan balon pemimpin daerah.

Sementara itu tokoh-tokoh pada wayang Tavip tidak seperti wayang lainnya yang menggambarkan tokoh-tokoh Mahabarata atau Ramayana, namun gambarnya disesuaikan dengan tokoh-tokoh abstrak, kartun dan juga bisa tokoh yang dikehendaki oleh penonton.

Wayang yang muncul dari ide kreasi Muhammad Tavip pada 2003 sudah manggung di sejumlah negara seperti di Yunani, Spanyol, Korea bahkan di Vietnam mendapat penghargaan sebagai kreasi seni orisinal.
“Karenanya yang menyaksikan pada malam (Senin, 18/12) ini sangat beruntung sekali,” ujar Dadan Anggar, salah seorang penonton. (A-87/A-88)***

Kamis, 06 Desember 2012

Dhimas Tedjo Ikut Peringati Hari Aids - Akhirul Anwar/JIBI/Harian Jogja

Dhimas Tedjo
JOGJA - Jumat, 30 November 2012 15:22 WIB :  Untuk mendukung tema peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2012 yaitu ‘Lindungi Perempuan dan Anak dari HIV dan AIDS’, pantia Peringatan HAS 2012 di DIY akan menggelar Wayang Kulit di Bangsal Kepatihan Jogja, Sabtu (1/12/2012) mulai pukul 20.00 WIB.

“Kami memilih Wayang, karena kebanyakan penonton wayang adalah laki-laki. Sedang upaya perlindungan perempuan dan anak dari HIV dan AIDS jelas sangat butuh partisipasi laki-laki,” ungkap Ghanis Kristia selaku Sie Acara Peringatan HAS 2012 dalam siaran pers, Jumat (30/11/2012).

Pentas Wayang kulit dengan dalang Ki Gondo Suharno akan menyisipkan info dan pesan-pesan seputar HIV dan AIDS. Untuk memeriahkan pementasan, juga akan tampil penyanyi campursari kondang di Jogja, yakni Dhimas Tejo.

Lebih lanjut Ghanis mengungkapkan, selama ini perempuan telah banyak menjadi sasaran diseminasi informasi tentang HIV dan AIDS. Namun kenyataannya jumlah pengidap HIV perempuan menunjukkan peningkatan yang cukup tinggi.

“Dan banyak diantara mereka adalah ibu rumahtangga yang tidak pernah berganti-ganti pasangan dan tidak menyangka akan terinfeksi HIV”, jelas Ghanis.

Sementara itu, Sekretaris KPA DIY Riswanto mengungkapkan, data kasus HIV dan AIDS di Dinas Kesehatan DIY menyebutkan, pengidap HIV dan AIDS dari kalangan iburumahtangga hingga bulan Juni 2012 secara kumulatif sebanyak 189 kasus.

Sementara jumlah kumulatif kasus pada perempuan sebanyak 588 kasus dan laki-laki 1.144 kasus. Tingginya angka kasus pada laki-laki dan naiknya jumlah kasus pada perempuan, menunjukkan korelasi bahwa penyebaran virus HIV banyak berasal dari hubungan seksual yang beresiko. Faktor resiko heteroseksual menurut data Dinkes DIY menempati urutan pertama, yakni 879 kasus.
Editor: |

Rabu, 05 Desember 2012

WAYANG KLITHIK DI TENGAH HEGEMONI BUDAYA BARU Oleh Eko Wahyu Budi


Wayang Klithik
SUARA MERDEKA – SELASA, 27 NOV. 2012: Wayang merupakan sebuah warisan budaya Jawa, sejak masa Wali Songo hingga sekarang wayang masih digunakan sebagai media penyebaran Agama Islam . Konon wayang digunakan oleh Sunan Kali Jaga sebagai media menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa. Di Jawa tengah khususnya.

Keberadaan wayang di daerah Jawa mempunyai bentuk yang heterogen. Seperti halnya Wayang Kulit yang dibuat dari kulit, Wayang Suket yang terbuat dari rumput (suket) dan mulai dikenal masyarakat lewat dalangnya Slamet Gundono, juga Wayang Krucil atau Wayang Klithik yang keberadaannya hampir punah karena tergerus oleh budaya- budaya modern. Menurut akar sejarahnya, Wayang Krucil pertama kali diciptakan oleh Pangeran Pekik dari bahan kulit dan berukuran kecil sehingga lebih sering disebut dengan Wayang Krucil.

Sejarah Wayang Klithik

Wayang ini dalam perkembangannya menggunakan bahan kayu pipih (dua dimensi-red) yang kemudian dikenal sebagai Wayang Klithik. Di daerah Jawa Tengah Wayang Klitik memiliki bentuk yang mirip dengan Wayang Gedog. Tokoh-tokohnya memakai dodot rapekan, berkeris, dan menggunakan tutup kepala tekes (kipas). Sedangkan, di Jawa Timur tokoh- tokohnya banyak yang menyerupai Wayang Purwa. Di Jawa Tengah, tokoh-tokoh rajanya Bergelung Keling atau Garuda Mungkur saja.

Cerita yang dipakai dalam Wayang Klithik umumnya mengambil dari zaman Panji Kudalaleyan di Pajajaran hingga zaman Prabu Brawijaya di Majapahit. Namun, tidak menutup kemungkinan Wayang Krucil memakai cerita Wayang Purwa dan Wayang Menak, bahkan dari Babad Tanah Jawa sekalipun. Gamelan yang dipergunakan untuk mengiringi pertunjukan wayang ini amat sederhana, berlaras slendro dan berirama playon bangomati (srepegan). Namun, ada kalanya Wayang Klithik menggunakan gendhing-gendhing besar.

Adapun tokoh wayang Klithik atau Krucil antara lain. Damarwulan, Menakjingga, Layangseta, Layang Kumitir, Logender, Prabu Kencanawungu, Patih Udara, Wahita, Puyengan, Adipati Sindura, Menak Koncar, Ranggalawe, Buntaran, Watangan, Anjasmara, Banuwati, Panjiwulung, Sabdapalon, Nayagenggong, Jaka Sesuruh, Prabu brawijaya, Angkatbuta, Ongkotbuta, Dayun, Melik, Dewagung Walikrama, Dewagung Baudenda.

Wayang Klithik memiliki karakteristik sendiri di banding dengan jenis wayang yang lain yaitu menggunakan tembang pelok dan pada saat di tengah- tengah pertunjukan sering adanya dialog antara dalang, sinden, dan penabuh gamelan. Keunikan lain dari wayang Klithik adalah modelnya yang dua dimensi dan juga terbuat dari kayu kenanga. Wayang Klithik biasanya dipentaskan pada malam hari, maupun hari tertentu. Misalnya pada saat tradisi sedekah bumi, ataupun malam sura.

Tradisi Kuat

Daerah yang masih kerap mengadakan pagelaran Wayang Klithik adalah daerah Blora, tepatnya di Desa Janjang Kecamatan Jiken. Mengingat di Desa tersebut mempunyai tradisi yang masih kuat. Pagelaran Wayang Krucil di Desa tersebut umumnya dilakukan pada saat acara Khoul Mbah Janjang, maupun saat masyarakat yang mempunyai nazdar tertentu.

Banyak masyarakat Blora yang mengetahui hasil kebudayaan asli Jawa ini dikarenakan kurangnya kepedulian dan pemahaman yang konkret tentang hal ini, maka keberadaan Wayang Krucil sedikit demi sedikit terlupakan. Hal seperti itu secara tidak langsung akan membuat sebuah pendegradasian sebuah karya budaya lokal yang seharusnya kita sebagai masyarakat asli menjunjung tinggi hal tersebut. Selain terbatasnya peminat ataupun pemerhati, keterbatasan jumlah pengrajin dari Wayang Krucil itupun juga sangat memprihatinkan.

Perhatian dari pemerintah Blora pun kurang begitu maksimal. Kurangnya "nguri- nguri kabudayaan" dari pemerintah dan masyrakat di Blora pada umumnya akan menambah deretan penyiksaan terhadap hasil kebudayaan ini, yang pada akhirnya akan menjadikan hasil dari kebudayaan ini akan punah.

Dahulu saat era Wali Songo, wayang sangat populer. Tetapi saat ini, warisan budaya ini seperti tergeser dengan adanya kebudayaan-kebudayaan baru yang umumnya "dikatakan" modernisasi.
(Eko Wahyu Budi/CN32)