Minggu, 12 Januari 2020

Nikmah Sunardjo,dkk: HIKAYAT PURASARA 5

Blog Ki Slamet 42: Wayang Islami
Senin,13 Januari 2020 - 05.21 WIB
 
Image "Lurah Semar (Foto: SP)
Wayang Kulit Lurah Semar

D. Transliterasi Naskah Hikayat Purasara

Diceritakan oleh oleh pengarang. Tatkala di dalam kayangan yang menjadi awal cerita lelakon, yaitu Sangyang Tunggal akan mencipta seorang laki-laki yang akan diturunkan ke dalam alam dunia untuk menduduki kerajaan di dunia. Maka siang dan malam Sangyang Tunggal membaca mantera tiada henti kira-kira sembilan puluh tahun lamanya. Maka muncullah mega yang mengeluarkan cahaya yang bersinar-sinar dalam kayangan hingga sekalian batara yang menghuni alam kayangan menjadi heran tercengang.
Sehilangnya cahaya muncullah seorang muda-belia, yang bersikap lemah lembut kelakuannya. Sangyang Tunggal terlalu amat suka cita hatinya, ia pun segera menghampirinya. Laki-laki itu pun sujud menyembah. Maka berkatalah Sang Tunggal,
“Sekarang, marilah ikut aku ke singgahsanaku!” Laki-laki itu lalu mengikutlah bersama-sama. Setelah sampai lalu didudukkannya di atas sebuah kursi. Maka sekalian batara-batara pun heran tercengang melihat laki-laki itu amat bagus. Masing-masing mengunjunginya. Berkatalah Sangyang Tunggal,
“Hai orang muda, sekarang aku hendak menurunkan kamu ke dunia supaya menjadi panjang lelakon. Dan sekarang aku beri nama kamu, Sangkara. Dan kamu bawalah seorang widadari dari kayangan ini Dewi Asmayawati, dia yang akan menjadi istrimu.”

Ketika mendengar ucapan Sangyang Tunggal, Sangkara menundukkan kepalanya, dan betapa amat gembiranya. Sangyang Tunggal terlalu sukacita hatinya dan terlalu amat kasihnya tiada terkira-kira timbullah pikirannya,
“Baiklah, aku pun akan turun ke dunia bersama-sama supaya akan memeliharakan anak cucunya dan anak buahnya dan keturunannya supaya jadi santosa karena jikalau aku turunkan yang lain, niscaya menjadi kemaslahatan. Jikalau demikian, aku akan menyamar sebagai Lurah Semar.
Setelah berpikir demikian, maka kata Sangyang Tunggal,
“Hai Sangkara, sekarang apakah bicaramu?”  Seraya menyembah, berkata Sangkara,
“Maulah hamba bersama-sama turun ke dunia, tetapi hendaknya ditemani Dewi Asmayawati supaya hamba betah.”  Demi mendengar ucapan Sangkara, berkata Sangyang Tunggal,
“Tak usah berpikir susah-susah dan selempang, nanti aku akan sertakan Lurah Semar sebagai panakawan dan Dewi Asmayawati untuk menemanimu.”  Sangyang Tunggal pun memanggil Dewi Asmayawati yang seketika itu juga datang seraya menyembah. Berkata Sangyang Tunggal,
“Hai Dewi Asmayawati, sekarang ikutlah kamu pada suamimu turun ke dunia.” Maka keduanya pun turunlah ke dunia sebagai dua sejoli suami istri.
Alkisah Sangyang Tunggal yang berada di kayangan berpikir,
“ Jika demikian, kerajaan kayangan ini sebaiknya aku serahkan kepada Sangyang Punggung, Batara Guru, karena dialah yang patut dijadikan Raja Kayangan.”  Maka dipanggilnyalah Batara Guru yang tak seberapa lama kemudian Sangyang Punggung Batara Guru pun datang menemui lalu memnyembah Sangyang Tunggal. Sangyang Tunggal menerima sembah sujud Batara Guru seraya berpesan,
“Dinda Batara Guru, sekarang kamu gantikanlah aku, dan aku serahkan Kerajaan Kayangan ini pengelolaannya kepadamu karena aku akan menjalani lelakon yang tentu akan menjadi panjang ceritanya.”
Setelah menyerahkan hak penguasaan pengelolaan pemerintahan Kerajaan Kayang kepada Sangyang Punggung atau Batara Guru, Sangyang Tunggal pun beralih rupa lalu gaiblah yang dalam waktu sekejap sampailah ia di hadapan Sangkara. Dilihatnya Sangkara serta Dewi Asmayawati sedang berjalan dengan perasaan bingung karena hatinya merasa heran melihat dunia yang luas dan apa yang yang telah dikatakan oleh Sangyang Tunggal tentang panakawan yang bernama  Semar pun belum ada. Maka dengan perasaan masgul.
Ketika Sangkara melihat seorang kakek tua yang entah dari mana datangnya itu, yang bertubuh hitam dan bergigi satu ia berpikir mungkin orang tua itulah yang bernama Lurah Semar Kudapawana. Maka segera Sangkara pun menghampiri dan menegur orang tua itu,
“Wahai orang tua, darimanakah asalmu, dan bagaimana bia bapak bisa berada di tempat ini?”  Mendengar pertanyaan Sangkara, orang tua itu menyembah seraya berkata,
“Ya Tuanku, akulah yang bernama Lurah Semar yang diperintah oleh Sangyang Tunggal menjadi panakawan untuk mengikuti Tuan di dunia!” Demi mendengar penuturan orang tua itu yang tak lain adalah Lurah Semar panakawannya betapalah sukacita hati Sangkara dan Dewi Asmayawati. Maka mereka bertiga pun melanjutkan perjalanannya.

B e r s a m b u n g

  
—KSP 42—
Senin, 13 Januari 2020 – 05.17 WIB
Slamet Priyadi di Kp. Pangarakan, Lido – Bogor

P u s t a k a :                             
Nikmah Sunardjo, dkk
“Hikayat Wayang Arjuna dan Purusara
Pusat Bahasa Kementerian Pendidikan Nasional Jakarta 2010
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar