Rabu, 16 April 2014

Menengok wayang kulit jumbo ukuran 3 meter


Tritus Julan
Sabtu,  5 April 2014  −  07:10 WIB

Anom Sudarmaji Dalang Wayang Jumbo dari Mojokerto (Foto: Tritus Julan/SINDO)
Sindonews.com - Dengan penerangan satu lampu neon, Anom Sudarmaji terlihat teliti memotong lembaran kulit sapi yang di bagian atasnya telah digambar salah satu tokoh wayang.

Dia harus benar-benar teliti memotong dengan menggunakan tata kecil. Karena tak hanya memotong, sejumlah lekukan kecil juga harus dia buat dengan rapi di bagian dalam gambar.

Kepiawaian bapak tiga anak ini membuat wayang kulit memang tak diragukan lagi. Selain cara memotong yang sangat rapi, dia juga mahir menggambar utuh semua tokoh pewayangan. Tak perlu gambar contoh, dia dengan cepat bisa membuat gambar utuh tokoh Arjuna. Usai membuat pola dan memotongnya, dia memberikan warna dengan cat air yang dicampur lem.

Anom Sudarmaji bukanlah perajin wayang kulit biasa. Selain bisa membuat sendiri, dia juga seorang dalang tersohor di Mojokerto. Terlebih, dia memiliki ciri khas dengan ukuran wayangnya yang ekstra besar alias jumbo. Ukuran yang tak lazim untuk wayang kulit. Dia membuatnya dengan ukuran tinggi dua meter lebih. ”Ada yang hingga mencapai hampir tiga meter,” kata Anom kepada SINDO, Jumat 4 April 2014.

Membuat dan memainkan wayang kulit berukuran jumbo bukan tanpa alasan baginya. Kesenian khas Jawa itu memang telah ditinggalkan masyarakat. Tergerus oleh banyaknya kesenian modern yang mudah diterima semua kalangan. ”Agar bisa lebih menarik dan berkesan. Kalau dengan ukuran wajar, saya yakin tak banyak masyarakat yang suka,” ujarnya.

Sudah 15 tahun terakhir dia menggunakan wayang kulit jumbo di setiap pertunjukkannya. Sejauh itu pula, diakui jika grup wayang kulit Siswo Laras binaannya tak pernah sepi panggilan. Dalam setahun, rata-rata dia mengantongi lebih dari 60 kali pementasan.

”Alahmdulillah, dengan wayang ukuran besar, banyak panggilan. Dan hanya saya yang menggunakan wayang kulit jumbo,” paparnya.

Membuat dan memainkan wayang kulit dengan ukuran jumbo, memang tak mudah. Untuk membuatnya, butuh kulit sapi utuh yang berukuran besar. Untuk itu, dia kerap menemui kesulitan. Namun baginya, itu bagian dari tantangan. ”Kini saya sudah memiliki sekira 16 wayang kulit jumbo,” akunya.

Sementara untuk memainkannya, dia juga butuh tenaga yang ekstra. Namun di usianya yang kini menginjak 53 tahun, Sudarmaji mengaku masih mampu.

”Apalagi saat memainkan tokoh perang. Wayangnya berat. Butuh larapan (pohon pisang tempat memasang wayang) yang berukuran besar pula,” aku pria yang tinggal di Dusun Kedunggalih, Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini.

Berprofesi sebagai dalang dan perajin wayang jumbo, baginya adalah satu-satunya sumber mata pencaharian. Dari profesi itu pula dia mampu menyekolahkan tiga putra-putrinya hingga jenjang sarjana. Dan kini, kehidupannya terbilang mapan.

”Hanya dari dalang dan membuat wayang saja kebutuhan keluarga dan sekolah anak saya tercukupi,” ujar pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SD ini.

Sudarmaji memang tak hanya membuat wayang kulit jumbo. Dia juga membuat wayang kulit dengan ukuran normal. Dari selembar tokoh pewayangan berukuran normal, dia bisa mengantongi Rp800 ribu. Sementara wayang kulit ukuran jumbo, per buah dia banderol hingga Rp3,5 juta.

”Sekarang saya sudah memiliki empat set wayang kulit, termasuk jumbo. Semuanya saya buat sendiri,” katanya.

”Setiap pertunjukan di dalam kota, satu grup kami mendapatkan imbalan Rp13 juta. Cukup untuk menghidupi sekira 50 anggota grup ini,” pungkasnya.
(rsa)

Sabtu, 01 Maret 2014

Pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya (WORE)



Reporter : Masithoh Azzahro Lutfiasari | Selasa, 25 Februari 2014 14:30
 
Wayang Orang Rock Ekalaya. ©2014 Merdeka.com/jktgo.com 
Pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya (WORE) jalani sesi latihan 

Wayang Orang Rock EkalayaMerdeka.com - Pementasan kreasi seni budaya dengan kemasan yang berbeda, unik dan bakal menjadi hal yang baru pada panggung pertunjukan Tanah Air bertajuk Wayang Orang Rock Ekalaya yang akan diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2014 mendatang bertempat di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, saat ini tengah menjalani beragam sesi latihan dengan para pemain yang bertempat di WOR Headquarter sejak awal Februari 2014 lalu. Jelang pementasan yang tinggal menyisakan satu bulan ini, para pemain menjalani seluruh proses latihan awal mulai dari reading hingga latihan dialog dan adegan dengan serius dan penuh penghayatan. Hal ini pun yang dirasakan oleh Sutradara, Arie Dagienkz yang terus menggembleng dan memotivasi para pemain sepanjang sesi latihan.

Wayang Orang Rock Ekalaya"Saya sangat salut dengan semangat dan antusiasme yang ditunjukkan oleh seluruh pemain, terutama pemain utama yang memiliki beban lebih besar. Mereka sangat terbuka menerima pengarahan yang diberikan dan mengikuti apa yang sudah diajarkan. Seru juga melihat para musisi Rock & Roll berpindah posisi belajar seni peran yang merupakan hal yang baru bagi mereka. Namun hal tersebut tidak membentengi keseriusan mereka untuk terus menggali potensi diri yang mereka miliki." ujar Arie.

Wayang Orang Rock EkalayaSang pemeran tokoh Ekalaya, Stevie Item Andra and the Backbone yang awalnya ragu apakah dapat memerankan tokoh utama Ekalaya dengan baik, setelah beberapa kali

latihan intensif, mulai merasakan spirit dan nilai-nilai kehidupan sang tokoh dalam dirinya. Saya sangat gembira diberikan kesempatan bergabung di Wayang Orang Rock Ekalaya ini. Melihat sosok Ekalaya yang sangat membumi dan memiliki nilai-nilai kehidupan yang patut di share ke khalayak umum ini, ternyata mampu mempengaruhi saya untuk meniru sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh tokoh Wayang yang mungkin belum banyak yang kenal. Dari pengenalan watak tokoh Ekalaya yang secara kontinu terpacu tiap latihan ini, membuat saya menjadi jatuh cinta dan bangga dapat berperan sebagai sosok Ekalaya yang down to earth dan selalu haus akan ilmu, terang Stevi Item Andra and the Backbone bersemangat.

Wayang Orang Rock EkalayaHal sama pun dirasakan oleh Jikun /rif yang berperan sebagai tokoh Resi Durna, guru besar yang cukup di segani di negeri Hastina Pura. Jikun merasa tokoh Resi Durna cukup menantang. Tokoh Resi Durna sebagai guru yang sangat dihormati dan bijaksana tetap memperlihatkan nilai-nilai yang patut dicontoh bahwa ia juga selalu mengayomi dan memotivasi anak didiknya untuk kerja keras dan tidak patah semangat. Ini peran yang cukup berat juga buat saya, semoga kecintaan saya terhadap musik dapat memudahkan saya beradaptasi dengan peran ini. Bagi saya pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya ini cukup fenomenal karena memadukan unsur tradisional dan modern dalam satu kemasan yang pastinya akan memberikan hiburan yang berbeda, terang Jikun seputar tokoh yang dilakoninya.

Credit photo: Dokumentasi Titimangsa Foundation
Photographer : Heru Suryoko
Wardrobe : Narcssbandit by Olive
Make Up : Adi Wahono
Hair : Tommy Huang

Sebagai informasi, adapun yang terlibat adalah Stevie Item Andra and The Backbone sebagai Ekalaya, Otong Koil sebagai Arjuna, Jikun /rif sebagai Durna dan seorang perempuan satu-satunya di panggung, Sophia Latjuba yang akan berperan sebagai Anggraeni. Selain keempat pemain di atas, tergabung pula dalam jajaran pemain adalah band /rif, Netral, Seringai, The Brandals, Leonardo Ringo, Roxx, Candil, Bonita, Iwa K. dan Yopie Item.

Untuk menikmati pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya pertengahan Maret mendatang, Titimangsa Foundation menawarkan harga tiket dalam 4 kelas yaitu VVIP seharga Rp. 875,000; VIP seharga Rp. 775,000; Kelas 1 Rp 575,000 dan Kelas 2 Rp. 275,000 yang tersedia di ticket box yaitu www.kiostix.com dan gerai Indomaret yang tersebar di Jabotabek.

Untuk informasi lainnya dapat mengunjungi situs social media resmi Wayang Orang Rock Ekalaya di Facebook #Wayang Orang Rock, Twitter @WayangOrangRock, Instagram WayangOrangRock.

Mari mulai mencintai dan dukung warisan seni budaya Tanah Air untuk menjadi generasi yang bersinar!
[mzh]

Many facets of wayang kulit By Anwardi Jamil


Duryudana


While Indonesia has taken steps to preserve its wayang kulit tradition, little has been done here, writes Anwardi Jamil

ONE of the newer galleries in the National Museum is the Malay Gallery, located outside the main gates near the car park, and above the old Orang Asli Gallery.

The small gallery contains a basic introduction to various aspects of the Malay world including traditions and culture. Some of the exhibits include a glimpse of weapons used by the Malays, the various kinds of carvings and motifs used in traditional designs and architecture, jewellery and textiles and some aspects of the performing arts.

In one corner, one can find the diorama of a traditional Malay wayang. This is the only official reference in the city to Malay wayang kulit tradition that I know of. It’s sad, especially when Malay wayang kulit  (which is directly related to the Indonesian wayang kulit) has been declared a Unesco World Heritage which should be preserved. If you are a tourist and eager to see an example or exhibit of the Malay wayang, this is it. Unless you know of any private or individual galleries, this is all we have to show of how much we revere one of our most traditional Malay arts.
 
In Indonesia, the opposite is true. There are many references to wayang kulit art and performances. This is not only evident in Jakarta but also in other major cities like Yogyakarta and Solo. Even Indonesian television screens wayang kulit performances regularly and therefore, keeps it alive. Here, there are bodies and organisations trying their best to preserve and promote wayang kulit. These include Eddin Khoo’s Pusaka, which has been promoting Kelantan wayang for more than a decade. Unfortunately, the presence of wayang events and activities here cannot compete with what the Indonesians have.

TRIBUTE TO WAYANG
I couldn’t help feeling envious of what Indonesia had to offer on a recent trip to a 40-year-old Wayang Museum in Fatahillah Square, Jakarta. This museum, located in the premises of a 200-year-old Dutch building, isn’t well maintained but it is a splendid museum that offers visitors a detailed glimpse of the history and the art of  mostly Indonesian wayang kulit. Here, you can savour the history of the 1,500-year-old art form and see its various versions from all over Indonesia, such as wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka and wayang beber as well as wayang music (gamelan).

Enter the building and you will be greeted by three-metre tall wayang golek replicas. The museum is home to more than 4,000 artifacts, some of which are over 400 years old. Walking through the dimly-lit corridors, I had only one complaint —the lack of information on the exhibits and artifacts. The impressive exhibits encased in glass displays could have been appreciated better had the captions been more detailed. Nevertheless, one cannot help but be impressed by the collection. I am a huge fan of wayang golek. It is like watching wayang kulit in 3D. Wayang golek uses intricately-carved and designed puppets elegantly clothed in decorative costumes.

Through  the exhibits, one begins to understand other aspects of Indonesian culture and arts that thrive alongside wayang kulit. For example, Indonesian batik is inspired by these wayang kulit characters along with the history of Indonesian gamelan music. Through the Wayang Museum, one is treated to various other aspects of Indonesian traditional arts.

HISTORICAL LOCATION
I also love the old building in which the museum is housed. It has a colourful history too. Though the building is about 200 years old, the actual site was formerly that of the Old Dutch Church, built in 1640 and stood for about 100 years. Its grounds were the burial site for many Indonesian Dutch masters including one of the first governors, J.P. Coen. The graves have since been relocated but a few of the  old tombstones can still be seen in the main air-well area of the present museum.

A massive earthquake in 1808 nearly destroyed the building but it was reconstructed and used as a storage building until 1936 when the local Dutch government decided to turn it into a museum. The  Batavia Museum was officially opened in 1939. Closed during the Japanese Occupation, it was reinstated as a museum in 1957 by the new Indonesian government.

However, it would take a few more decades before the museum, then called the Jakarta Museum, became the Wayang Museum, thanks to  former Jakarta governor Ali Sadikin, an avid lover of traditional wayang kulit. It was due to his love for the art that the museum was dedicated to the origins, preservation and promotion of the wayang kulit tradition. With his support, artifacts and exhibits were collected from all over Indonesia and the world and the Wayang Museum was officially opened  in August 1975.

THRIVING CENTRE
The museum is undergoing some renovation to include the latest display technologies and design. Already, some parts of the galleries  look more modern than the rest. One room is dedicated to gamelan while another displays the various influences of wayang and puppet traditions from all over the world including India, Vietnam, China, the Middle East and Europe. Even our Malaysian wayang kulit exhibits have found their way here. What is great about the museum is that it is a living museum. Not only does it have static exhibits but it is also a centre for reviving the various forms of Indonesian wayang and a venue for  performances. Just a glance at last month’s calendar of activities shows how active it has been in promoting Indonesian wayang kulit heritage, with weekly performances held on its premises. If you happen to drop in on a weekend, you will be able to enjoy the performances of Betawi wayang kulit (shadow play), Sunda wayang golek (wooden puppet show), wayang kulit Purwa and the wayang kulit Bali.

The Indonesians guard their wayang heritage jealously and have turned it into a massive commercial commodity with sales of souvenirs, performances, multimedia and literature. A decorative souvenir wayang kulit piece can be sold for thousands of ringgit and a professional dalang can earn a comfortable living through performing for tourists. Unfortunately, ours is a dying art, despite the  efforts of organisations like Pusaka.

Hopefully the authorities will realise there is a need to preserve and promote wayang kulit before it becomes an art form that only Indonesia can claim ownership of. For now, if you want to know more about the beauty of wayang kulit, visit the Wayang Museum in Fatahillah Square on weekends.
Wayang golek puppet from Java


Senin, 13 Januari 2014

Cerita Wayang, Dongeng Atau Sejarah?



Wayang Islami – Selasa, 14 Januari 2014 – 10:13 WIB

Pentas wayang
Setengahnya orang, terutama yang sedikit antipati terhadap wayang berpendapat, wayang itu hanya cerita dongeng semata tak ada kaitannya dengan sejarah. Pendapat seperti ini perlu kita kritisi agar tidak ada salah faham yang lebih jauh. Yang jelas, cerita wayang berasal dari dua kitab sastra Hindu terbesar yang sudah sangat terkenal, “RAMAYANA dan MAHABARATA”.  Akan tetapi oleh para penyebar Islam (Wali Sanga)pada era berkuasanya kerajaan Demak di Jawa, cerita wayang di Indonesia sudah banyak dirubah dan dikembangkan baik bentuk wayangnya itu sendiri maupun isi ceritanya yang disesuaikan dengan ajaran Islam. Hal tersebut dilakukan oleh para wali sebagai media da’wah Islam. Bentuk-bentuk wayang di Indonesia sebagai mana yang kita lihat sekarang itu bahkan tidak ada di negara asal cerita wayang itu sendiri, India.

Kitab Ramayana dikarang oleh Walmiki (Hindu). Kitab ini lebih tua dari pada Mahabarata. Di negeri Hindu, Ramayana termasuk kitab golongan orang yang memeluk agama Wisnu.  Sedang Mahabarata kitab orang yang beragama Siwa.  Di Jawa kitab Ramayana berbahasa Jawa Kuna dan berbentuk syair.  Para sarjana Belanda ada yang mendalami kita ini, seperti Dr.W.F. Stutterhein (Die Rama Legenden) dan lain-lain.    Kitab Ramayana berbahasa Jawa Kuna ini kira-kira pada masa pemerintahan raja Diyah Balitung. Seorang raja terkenal yang menguasai Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang bertahta di Mataram kira-kira tahun 820-832 Saka.  Adapun kitab Ramayana berbahasa Jawa Kuna menceritakan Prabu Rama, seperti kitab Ramayana berbahasa Sansekerta ciptaan Walmiki.  Meskipun demikian ada bedanya.  Pada Ramayana Sansekerta  “Sita” istri Rama, sesudah pulang ke negeri Ayodya lalu berpisah dengan Rama.  Sedang dalam kitab Ramayana Jawa Kuna, Sita segera berkumpul lagi dengan Rama.  (Prof.Dr. R.M. Poerbotjaraka, Kepustakaan Jawi, halaman 9). Selain itu Ramayana Jawa Kuna jika dibandingkan dengan Ramayana Walmiki, termasuk sangat pendek dan ringkas, tidak berlarut-larut. Telah diketahui bahwa induk Ramayana Jawa Kuna itu memang bukan Ramayana Walmiki. (Prof.Dr. R.M. Poerbotjaraka, Kepustakaan Jawi, halaman 9). Cerita besar yang mengisahkan cinta-kasih antara Rama dan Sinta ini telah dipertunjukkan dalam panggung secara besar-besaran di Prambanan dan merupakan acara tahunan yang cukup besar mendapat perhatian dari masyarakat dan para turis. 

Kitab Mahabarata, aslinya ada di India karangan dari Resi Wiyasa (Abiyasa), intinya mengisahkan perjalanan hidup keluarga Pandawa dan Korawa; yang kini di tanah Jawa jadi lakon cerita wayang Purwa, akan tetapi sudah banyak mengalami perubahan.

Kitab Mabarata tergolong kitab Siwaisme yang terdiri dari 18 Parwa (bagian), dari delapan belas parwa baru 9 saja yang ditemukan di Indonesia.  Delapan belas parwa itu urutannya sebagai berikut:

1.        Adi parwa *)
2.        Sabha parwa *)
3.        Wana (+wasa) parwa
4.        Wirata parwa *)
5.      Ud-yoga parwa *)
6.        Bhisma parwa *)
7.        Drone parwa
8.        Karna parwa
9.      Salya parwa
10.  Ghada parwa
11.   Aswatama parwa
12.   Stri Palapa parwa
13.   Santika parwa
14.   Asvamedha parwa
15.   Asramavasana parwa *)
16.  Mausala parwa *)
17.  Prasihanika parwa *)
18.  Swargarohana parwa *)

Adapun 9 parwa yang ada di Indonesia ialah parwa-parwa nomor *) 1, 2, 4, 5, 6, 15, 16, 17, 18.  Sedangkan yang banyak menjadi sumber cerita perwayangan di Indonesia adalah parwa yang pertama, yaitu Adi parwa.  Tentang Adi parwa ciptaan Indonesia ini, Prof.Dr. Poerbotjaraka menguraikan sebagai berikut :  

“Buku ini susunannya sama dengan buku Uttarakanda, juga menyebut nama Prabu Dharmawangsa Teguh (Raja di Jawa).  Dalam kitab Mahabarata merupakan bagian pertama.  Sedangkan detail urutan ceritanya banyak sekali.  Jelasnya, jadi cerita lakon wayang masa remaja, cerita-cerita lakon tentang kelahiran, dan lain-lain.  Cerita lakon Dewi Lara Amis, Bale sigala-gala, gugurnya Arimba, Burung Jiwata dan lain-lain, itu petikan dari buku Adi parwa.  Cerita “Ngebur Segoro Peresan”, yang menyebabkan keluarnya “air kehidupan”, juga awal adanya gerhana matahari atau gerhana bulan dimakan raksasa berbentuk kepala saja, juga ada dalam kitab ini.  Buku ini sudah dicetak dengan huruf latin. Dibandingkan dengan Mahabarata Sanskerta oleh Prof.Dr. H. Kern disertai beberapa petikan.  Cerita  Garuda diterjemahkan ke bahasa Belanda oleh Dr. Joynboll”. (Prof.Dr. R.M. Ng. Poerbotjaraka, Kepustakaan Jawi, halaman 9).

R. Harjawiraga menguraikan asal-usul wayang dan apa sebenarnya maksud cerita wayang itu diciptakan menulis demikian :

Wayang Purwa adalah sebagai symbol kehidupan manusia di dunia ini. Dalam pokok artinya, yang jadi awal sebagai ibu bapak sekalian wayang itu ialah “Hyang Manik Maya” (Betara Guru) dan “Hyang Ismaya” (Semar) sebangsa Dewa.  Manikmaya dan Ismaya putra “Hyang Tunggal”(tak diujudkan sebagai wayang).  Kedua putra itu pada awalnya berupa cahaya dan terjadinya pada saat yang bersamaan. Manikmaya bersinar-sinar, sedangkan Ismaya bercahaya kehitam-hitaman.  Kedua cahaya itu berebut mana yang lebih tua.  Lalu “Hyang Tunggal” bersabda, bahwa cahaya kehitam-hitamanlah yang lebih tua.  Akan tetapi diramalkan tak dapat berjiwa sebagai Dewa dan diberi nama “Ismaya”, bersifat sebagai manusia dan dititahkan supaya tetap tinggal di dunia mengasuh turunan Dewa yang berdarah Pandawa. Maka diturunkanlah ia ke dunia bernama “Semar” yang berupa manusia buruk rupanya. Cahaya yang bersinar diberi nama “Manikmaya”, tetap tinggal di “Suralaya” (kerajaan Dewa).  Manikmaya merasa bangga, karena tak punya cacat dan sangat berkuasa.  Tetapi pikiran Manikmaya yang demikian itu menjadi sebab baginya mendapat cacat juga pada dirinya kemudian.

Kedua kejadian ini merupakan lambang atau symbol. Ismaya sebagai lambang badan manusia yang kasar ini dan Manikmaya sebagai lambang kehalusan batin manusia. Jiw yang kasar (Semar) senantiasa menjaga kelima Pandawa yang ujudnya berupa “panca indra” atau kelima perasaan tubuh manusia.

Pandawa Lima  sebagai lambang 5 indra manusia

1    .      Yudhistira sebagai lambang indera perasa, hidung
2    .      Bima atau Werkudara sebagai lambang indrera pendengaran, telinga
3    .      Arjuna sebagai lambang indera penglihatan, mata
4    .      Nakula sebagai lambang indera mulut
5    .      Sadewa sebagai lambang indera badan

Kita harus senantiasa menjaga pada keselamatan panca indra dan kelima Pandawa atau indra manusia itu jangan sampai menempuh jalan yang salah seperti : hidung jangan hanya suka dan senang pada waktu mencium aroma yang serba harum dan wangi, telinga jangan hanya mendengarkan pada suara yang merdu-merdu saja, mata jangan hanya melihat pada keindahan semata yang terkadang menyesatkan, dan sebagainya.  Jelasnya, barang apapun yang mengenai kelima perasaan itu, jangan sampai dibeda-bedakan akan gunanya kebaikan dan keburukan, karena semuanya itu terjadi karena asalnya dari perbuatan diri sendiri.  Oleh karena itu sedapat mungkin kedua jalan itu dikembalikan pada pertimbangan ketenangan dan kejernihan hati. Tugas Semar-lah untuk menjaga kesejahteraan dan keselamatan Pandawa supaya mereka menjauhi permusuhan dengan Korawa, ialah nafsu amarah.  Akan tetapi Betara Guru (rasa batin) yang senantiasa menggoda dan mudah mengusik rasa jiwa yang mengarahkan pada kesalahan, maka Pandawa dan Korawa tidak henti-hentinya terus-menerus berperang hingga sampai pada perang yang terakhir, ialah perang Baratayuda, dan Pandawalah yang jaya dan mendapat kemenangan.

Analisa mengenai Batara Guru ini sudah menimbulkan salah paham.  Orang beranggapan bahwa Batara Guru yang paling berkuasa segalanya. (R. Harjawiguna, Sejarah Wayang Purwa, halaman 4, PN. Balai Pustaka Jakarta 1952). Ingat, Batara Guru bersifat lemah, dengan bukti dari segala cacat yang dimilikinya. Jika ia yang sangat berkuasa tentulah tak ada cacat pada dirinya.  Memang Batara Guru berkuasa tak terhingga, tetapi dengan kebijaksanaan dan kesaktian Semar, Batara Guru dapat diatasi dan dikendalikan oleh Semar. ( ibid, Sejarah Wayang Purwa )

Kesimpulan
Kesenian wayang bukanlah cerita dongeng, akan tetapi merupakan karya sastera yang adiluhung karena di dalamnya mengandung ajaran-ajaran bagaimana menghadapi hidup yang sebaik-baiknya menurut ajaran agama yang dianut manusia. Kesenian wayang merupakan simbol kehidupan manusia dengan segala sifat dan karakternya masing-masing. Kesenian wayang juga memiliki tujuan bagaimana berjuang  untuk melawan, memerangi segala nafsu angkara murka yang selalu merusak kehidupan damai manusia. (SP091257)

Penulis:
Slamet Priyadi
Pangarakan, Bogor

Sumber:
Drs. H. Effendi  Zarkasi, “Unsur Islam Dalam Pewayangan”, Alfa Daya- Jakarta