Rabu, 07 Januari 2015

" W A Y A N G " Oleh Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro


Pentas wayang Golek

 
Pentas wayang kulit
GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS - Kamis, 08 Januari 2015 -  Menurut penyelidikan para ahli, wayang adalah salah satu kebudayaan asli bangsa Indonesia, penyelidikan tersebut menghubungkan pertunjukan wayang dengan tradisi cara berfikir alam kepercayaan lama.  Dalam perkembangannya setelah melalui proses akulturasi dengan kebudayaan dari luar, khususnya dari India dan kebudayaan Islam, wayang menjadi bentuk manifestasi seni budaya yang tinggi mutunya.  Dalam hal ini para seniman pada zaman Islam ikut memberikan saham dalam pembinaan dan pengembangan seni wayang.
1.              Awal pembentukan rupa wayang
Dilihat dari bentuk fisiknya, perkembangan pertama dari wayang sudah dimulai pada zaman prasejarah sebagai bentuk perwujudan dari arwah nenek moyang.  Boneka batu yang dikenal dengan nama unduk adalah perwujudan pertama dalam wayang berdasarkan kepercayaan animisme.
Dalam sejarah perkembangan wayang, kepercayaan iti selalu menjadi landasan pemikiran.  Leluhur wayang ini adalah bentuk perlambangan nenek moyang yang kehadirannya didukung oleh hasrat manusia untuk memuja nenek moyang.
Pada zaman Hindu wayang mengalami perkembangan sesuai tradisi kebudayaan dari India.  Unsur-unsr kebudayaan dari India ini berhasil diserap dan dicerminkan dengan tradisi kebudayaan asli Indonesia dan membuahkan seni wayang yang lebih luas nilai kegunaannya.  Karena wayang itu pula terciptalah berbagai jenis seni yang berpadu satu sama lain seperti seni pedalangan atau seni karawitan, seni tari dan seni rupa.  Selanjutnya seni wayang menjadi wadah tumpuan dari berbagai nilai budaya bangsa karena karena pesan yang dibawakan.  Masyarakat dididik melalui seni wayang untuk mencintai hidup yang baik berdasarkan ajaran agama.  Wayang akhirnya berhasil membudaya dalam masyarakat Indonesia, khususnya di pulau Jawa.  Pada zaman Hindu boneka yang telah dirintis sebelumnya, mengalami perubahan bentuk dalam usaha memujudkan tokoh yang berperan dalam cerita pahlawan atau wiracarita.  Wiracarita yang bersumber dari kisah Ramayana dan Mahabharata yang melahirkan bentuk baru dalam sejarah seni wayang.
Dalam perkembangan seni rupa pada waktu itu menjadi proses perubahan konsep dalam bentuk pernyataan visual.  Poses pembentukan rupa dari wayang dapat diikuti pada pahatan relief candi.  Sebutan langgam wayang dalam mewujudkan tokoh cerita pada relief candi zaman Singasari dan Majapahit menjelaskan bagaimana gaya relief candi Jawa Tengah telah ditinggalkan untuk beralih pada bahasa pengucapan bentuk rupa yang baru.  Perwujudan tokoh cerita berubah menjadi gaya stilistik dan mengarah ke bentuk perlambangan.  Stilasi bentuk manusia dan binatang dengan melepaskanbentuk berdasarkan pedoman ikonografi seni India menghasilkan prototipe wayang yang kemudian berkembang pada Islam.   Perwujudan semacam ini mirip dengan bentuk wayang kulit yang sampai sekarang masih dipertahankan di Bali.
Adegan cerita Ramayana pada relief candi Panataran
Masih selalu menjadi bahan perbedaan pendapat, mana yang lebih dulu dicipta, apakah wayang kulit atau relief candi.  Apakah wayang kulit yang mencontoh relief ata sebaliknya.  Tetapi yang jelas ialah bahwa pada zaman Hindu telah diletakkan dasar-dasar rupa wayang untuk dikembangkan pada xaman Islam.  Proses pembentukan rupa wayang klaik dicapai pada zaman Islam sebagai karya seni rupa.  Dalam sejarah wayang dikenal pula jenis wayang  beber yang dilihat dari teknik pembuatannya merupakan karya seni lukis.  Tiap adegan cerita dilukiskan pada kain sebagai sarana pedalangan.  Dalam hal ini seorang dalang tidak memainkan boneka wayang melainkan adegan wayang dengan membeberkan gulungan kain yang bergambar.
 
Wayang beber dengan seni lukis penerus tradisi seni Hindu
 
2.              Peranan Kebudayaan Islam
Sulituntuk menjawab dengan tepat bilamana ada usaha pertama untuk memainkan wayang sebagai boneka wayang.  Usaha pertama untuk memainkan wayang diperlukan penemuan teknik baru, yaitu untuk menggerakkan bagian tangan dari boneka.  Bagian tangan boneka ini, seperti juga pada tubuhnya, diberi pegangan yang disebut gapit.  Usaha untuk melengkapi wayang dengan peralatan agar dapat dimainkan menurut penyelidikan dari zaman Islam.  Segala gerak dari tokoh wayang dihidupi oleh keterampilan dalang dalam menggerakkan tangan wayang dengan sikap tertentu.  Agama Islam yang pada dasarnya tidak menghendaki perwujudan makhluk hidup dalam bentuk nyata tidak sampai mengurangi nilai seni rupa wayang.  Tidak sedikit peranan para pemimpin Islam dalam mengembangkan dan menyempurnakan seni wayang dengan menambah beberapa jenis wayang seperti wayang krucil dan wayang klitik dan kemudian wayang purwa.  Tubuh wayang krucil dibuat dari bahan kayu gepeng sedangkan tangan dari kulit yang dapat digerakkan sepertu pada wayang kulit biasa.  Wayang krucil atau wayang klitik mengambil lakon dari cerita yang bersumber dari sejarah Majapahit dan Blambangan.  Lakon wayang ini juga dimainkan dalam wayang gedog yang dibuat dari papan kayu yang diukir.
Bentuk rupa dari wayang krucil dan wayang gedog dapat dipandang sebagai bentuk permulaan dari jenis wayang golek.  Wayang golek benar-benar merupakan jenis wayang boneka dengan bentuk tiga dimensi.  Meskipun perwujudannya plastis, tetapi wajah dan rut muka tokoh wayang dengan tata warnanya masih mengingatkan bentuk rupa tokoh-tokoh wayang kulit.  Juga apabila dilihat dari segi stilasi dan pengembangan dari bentuk fisik wayang kulkit.  Hal ini tidak menutup kemungkinanbahwa kelahiran dari kedua jenis wayang terssebut dalam waktu yang bersamaan, mengingat ide dari boneka wayang nenek moyang yang tiga dimensional telah dikenal zaman prasejarah.  Mengingat dasar pemikiran animistik pada zaman Hindu masih memegang peranan, maka tidak mustahil bahwa jenis wayang boneka ini ikut mendasari kelahiran wayang golek
Seperti telah diterangkan di depan, nama Islam banyak menghapus alam pikiran lama, karenanya seni wayang masih dapat dipelihara terus.  Dan dalam usaha mengembangkan seni wayang sebagai sarana da’wah dan media pendidikan para wali dan Sultan berjasa dalam menciptakan bentuk wayang baru.  Di samping berhasil mengembangkan bentuk rupa wayang, mereka juga mampu memberikan isi dan pesan barudalam lakon wayang dengan aspek-aspek pandangan falsafah baru.  Lakon wayang yang bersumber pada cerita Islam seperti cerita Nabi dari Kitab Ambiya dibutuhkan bentuk sumber rupa baru yang dikenal dengan nama wayang Dobel.  Demikian pula wayang Wahana dan wayang yang menyebabkan Islam berhasil menciptakan bentuk rupa dan isi lakon baru adalah karena keduduan wayang yang telah membudaya dalam masyarakat seperti yang telah diterangkan di depan.  Meskipun Islam tidak mengakui jenis kepercayaan yang animistik dan bersifat Hindu/Budha, namun Islam tidak menolak wayang sebagai  media pendidikan.  Dalam hal ini para mubalig dan para pemimpin masyarakat Islam, sesuai dengan kepentingan politik pemerintahannya, memakai dan mengembangkan seni wayang.  Karenanya seni wayang sebagai bentuk kesenian klasik dapat kesempatan untuk berkembang terua di pusat-pusat pemerintahannya, di samping jenis kesenian klasik lainnya.  Hasil dari pembinaan dan penyebaran jenis seni klasik ini, timbullah berbagai langgam atau gaya seni wayang kulit atau wayang golek dari Surakarta yang berbeda dengan gaya dari Yogyakarta atau dari Cirebon.  Perbedaan gaya seni ini meliputi kepandaian teknik sesuai dengan pengaruh tradisi seni daerah setempat.  Sejalan dengan timbulnya berbagai gaya wayang, timbul pula jenis-jenis wayang baru yang mengambil lakon baru pula.  Ada lakon yang bersumber pada cerita pokok dari wayang lama, cerita tentang agama, cerita tentang sejarah sampai kepada cerita tentang kehidupan binatang.
pustaka:
prof. Dr. wiyoso Yudoseputro
Pengantar Seni Rupa Islam Di Indonesia
Angkasa – Bandung 2000
Senin, 05 Januari 2015—14:31 WIB
Slamet Priyadi
Di Pangarakan, Bogor

GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS: W A Y A N G ” Oleh Prof. Dr. Wiyoso Yudoseputro: Pentas wayang Golek   Pentas wayang kulit GURU SMAN 42 JAKARTA MENULIS - Kamis, 08 Januari 2015 -  Menurut penyelidikan para...

Sabtu, 06 Desember 2014

Rabu, 16 April 2014

Menengok wayang kulit jumbo ukuran 3 meter


Tritus Julan
Sabtu,  5 April 2014  −  07:10 WIB

Anom Sudarmaji Dalang Wayang Jumbo dari Mojokerto (Foto: Tritus Julan/SINDO)
Sindonews.com - Dengan penerangan satu lampu neon, Anom Sudarmaji terlihat teliti memotong lembaran kulit sapi yang di bagian atasnya telah digambar salah satu tokoh wayang.

Dia harus benar-benar teliti memotong dengan menggunakan tata kecil. Karena tak hanya memotong, sejumlah lekukan kecil juga harus dia buat dengan rapi di bagian dalam gambar.

Kepiawaian bapak tiga anak ini membuat wayang kulit memang tak diragukan lagi. Selain cara memotong yang sangat rapi, dia juga mahir menggambar utuh semua tokoh pewayangan. Tak perlu gambar contoh, dia dengan cepat bisa membuat gambar utuh tokoh Arjuna. Usai membuat pola dan memotongnya, dia memberikan warna dengan cat air yang dicampur lem.

Anom Sudarmaji bukanlah perajin wayang kulit biasa. Selain bisa membuat sendiri, dia juga seorang dalang tersohor di Mojokerto. Terlebih, dia memiliki ciri khas dengan ukuran wayangnya yang ekstra besar alias jumbo. Ukuran yang tak lazim untuk wayang kulit. Dia membuatnya dengan ukuran tinggi dua meter lebih. ”Ada yang hingga mencapai hampir tiga meter,” kata Anom kepada SINDO, Jumat 4 April 2014.

Membuat dan memainkan wayang kulit berukuran jumbo bukan tanpa alasan baginya. Kesenian khas Jawa itu memang telah ditinggalkan masyarakat. Tergerus oleh banyaknya kesenian modern yang mudah diterima semua kalangan. ”Agar bisa lebih menarik dan berkesan. Kalau dengan ukuran wajar, saya yakin tak banyak masyarakat yang suka,” ujarnya.

Sudah 15 tahun terakhir dia menggunakan wayang kulit jumbo di setiap pertunjukkannya. Sejauh itu pula, diakui jika grup wayang kulit Siswo Laras binaannya tak pernah sepi panggilan. Dalam setahun, rata-rata dia mengantongi lebih dari 60 kali pementasan.

”Alahmdulillah, dengan wayang ukuran besar, banyak panggilan. Dan hanya saya yang menggunakan wayang kulit jumbo,” paparnya.

Membuat dan memainkan wayang kulit dengan ukuran jumbo, memang tak mudah. Untuk membuatnya, butuh kulit sapi utuh yang berukuran besar. Untuk itu, dia kerap menemui kesulitan. Namun baginya, itu bagian dari tantangan. ”Kini saya sudah memiliki sekira 16 wayang kulit jumbo,” akunya.

Sementara untuk memainkannya, dia juga butuh tenaga yang ekstra. Namun di usianya yang kini menginjak 53 tahun, Sudarmaji mengaku masih mampu.

”Apalagi saat memainkan tokoh perang. Wayangnya berat. Butuh larapan (pohon pisang tempat memasang wayang) yang berukuran besar pula,” aku pria yang tinggal di Dusun Kedunggalih, Desa Sampangagung, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto ini.

Berprofesi sebagai dalang dan perajin wayang jumbo, baginya adalah satu-satunya sumber mata pencaharian. Dari profesi itu pula dia mampu menyekolahkan tiga putra-putrinya hingga jenjang sarjana. Dan kini, kehidupannya terbilang mapan.

”Hanya dari dalang dan membuat wayang saja kebutuhan keluarga dan sekolah anak saya tercukupi,” ujar pria yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 SD ini.

Sudarmaji memang tak hanya membuat wayang kulit jumbo. Dia juga membuat wayang kulit dengan ukuran normal. Dari selembar tokoh pewayangan berukuran normal, dia bisa mengantongi Rp800 ribu. Sementara wayang kulit ukuran jumbo, per buah dia banderol hingga Rp3,5 juta.

”Sekarang saya sudah memiliki empat set wayang kulit, termasuk jumbo. Semuanya saya buat sendiri,” katanya.

”Setiap pertunjukan di dalam kota, satu grup kami mendapatkan imbalan Rp13 juta. Cukup untuk menghidupi sekira 50 anggota grup ini,” pungkasnya.
(rsa)

Sabtu, 01 Maret 2014

Pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya (WORE)



Reporter : Masithoh Azzahro Lutfiasari | Selasa, 25 Februari 2014 14:30
 
Wayang Orang Rock Ekalaya. ©2014 Merdeka.com/jktgo.com 
Pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya (WORE) jalani sesi latihan 

Wayang Orang Rock EkalayaMerdeka.com - Pementasan kreasi seni budaya dengan kemasan yang berbeda, unik dan bakal menjadi hal yang baru pada panggung pertunjukan Tanah Air bertajuk Wayang Orang Rock Ekalaya yang akan diselenggarakan pada tanggal 15 Maret 2014 mendatang bertempat di Tennis Indoor Senayan, Jakarta, saat ini tengah menjalani beragam sesi latihan dengan para pemain yang bertempat di WOR Headquarter sejak awal Februari 2014 lalu. Jelang pementasan yang tinggal menyisakan satu bulan ini, para pemain menjalani seluruh proses latihan awal mulai dari reading hingga latihan dialog dan adegan dengan serius dan penuh penghayatan. Hal ini pun yang dirasakan oleh Sutradara, Arie Dagienkz yang terus menggembleng dan memotivasi para pemain sepanjang sesi latihan.

Wayang Orang Rock Ekalaya"Saya sangat salut dengan semangat dan antusiasme yang ditunjukkan oleh seluruh pemain, terutama pemain utama yang memiliki beban lebih besar. Mereka sangat terbuka menerima pengarahan yang diberikan dan mengikuti apa yang sudah diajarkan. Seru juga melihat para musisi Rock & Roll berpindah posisi belajar seni peran yang merupakan hal yang baru bagi mereka. Namun hal tersebut tidak membentengi keseriusan mereka untuk terus menggali potensi diri yang mereka miliki." ujar Arie.

Wayang Orang Rock EkalayaSang pemeran tokoh Ekalaya, Stevie Item Andra and the Backbone yang awalnya ragu apakah dapat memerankan tokoh utama Ekalaya dengan baik, setelah beberapa kali

latihan intensif, mulai merasakan spirit dan nilai-nilai kehidupan sang tokoh dalam dirinya. Saya sangat gembira diberikan kesempatan bergabung di Wayang Orang Rock Ekalaya ini. Melihat sosok Ekalaya yang sangat membumi dan memiliki nilai-nilai kehidupan yang patut di share ke khalayak umum ini, ternyata mampu mempengaruhi saya untuk meniru sifat-sifat mulia yang dimiliki oleh tokoh Wayang yang mungkin belum banyak yang kenal. Dari pengenalan watak tokoh Ekalaya yang secara kontinu terpacu tiap latihan ini, membuat saya menjadi jatuh cinta dan bangga dapat berperan sebagai sosok Ekalaya yang down to earth dan selalu haus akan ilmu, terang Stevi Item Andra and the Backbone bersemangat.

Wayang Orang Rock EkalayaHal sama pun dirasakan oleh Jikun /rif yang berperan sebagai tokoh Resi Durna, guru besar yang cukup di segani di negeri Hastina Pura. Jikun merasa tokoh Resi Durna cukup menantang. Tokoh Resi Durna sebagai guru yang sangat dihormati dan bijaksana tetap memperlihatkan nilai-nilai yang patut dicontoh bahwa ia juga selalu mengayomi dan memotivasi anak didiknya untuk kerja keras dan tidak patah semangat. Ini peran yang cukup berat juga buat saya, semoga kecintaan saya terhadap musik dapat memudahkan saya beradaptasi dengan peran ini. Bagi saya pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya ini cukup fenomenal karena memadukan unsur tradisional dan modern dalam satu kemasan yang pastinya akan memberikan hiburan yang berbeda, terang Jikun seputar tokoh yang dilakoninya.

Credit photo: Dokumentasi Titimangsa Foundation
Photographer : Heru Suryoko
Wardrobe : Narcssbandit by Olive
Make Up : Adi Wahono
Hair : Tommy Huang

Sebagai informasi, adapun yang terlibat adalah Stevie Item Andra and The Backbone sebagai Ekalaya, Otong Koil sebagai Arjuna, Jikun /rif sebagai Durna dan seorang perempuan satu-satunya di panggung, Sophia Latjuba yang akan berperan sebagai Anggraeni. Selain keempat pemain di atas, tergabung pula dalam jajaran pemain adalah band /rif, Netral, Seringai, The Brandals, Leonardo Ringo, Roxx, Candil, Bonita, Iwa K. dan Yopie Item.

Untuk menikmati pertunjukan Wayang Orang Rock Ekalaya pertengahan Maret mendatang, Titimangsa Foundation menawarkan harga tiket dalam 4 kelas yaitu VVIP seharga Rp. 875,000; VIP seharga Rp. 775,000; Kelas 1 Rp 575,000 dan Kelas 2 Rp. 275,000 yang tersedia di ticket box yaitu www.kiostix.com dan gerai Indomaret yang tersebar di Jabotabek.

Untuk informasi lainnya dapat mengunjungi situs social media resmi Wayang Orang Rock Ekalaya di Facebook #Wayang Orang Rock, Twitter @WayangOrangRock, Instagram WayangOrangRock.

Mari mulai mencintai dan dukung warisan seni budaya Tanah Air untuk menjadi generasi yang bersinar!
[mzh]

Many facets of wayang kulit By Anwardi Jamil


Duryudana


While Indonesia has taken steps to preserve its wayang kulit tradition, little has been done here, writes Anwardi Jamil

ONE of the newer galleries in the National Museum is the Malay Gallery, located outside the main gates near the car park, and above the old Orang Asli Gallery.

The small gallery contains a basic introduction to various aspects of the Malay world including traditions and culture. Some of the exhibits include a glimpse of weapons used by the Malays, the various kinds of carvings and motifs used in traditional designs and architecture, jewellery and textiles and some aspects of the performing arts.

In one corner, one can find the diorama of a traditional Malay wayang. This is the only official reference in the city to Malay wayang kulit tradition that I know of. It’s sad, especially when Malay wayang kulit  (which is directly related to the Indonesian wayang kulit) has been declared a Unesco World Heritage which should be preserved. If you are a tourist and eager to see an example or exhibit of the Malay wayang, this is it. Unless you know of any private or individual galleries, this is all we have to show of how much we revere one of our most traditional Malay arts.
 
In Indonesia, the opposite is true. There are many references to wayang kulit art and performances. This is not only evident in Jakarta but also in other major cities like Yogyakarta and Solo. Even Indonesian television screens wayang kulit performances regularly and therefore, keeps it alive. Here, there are bodies and organisations trying their best to preserve and promote wayang kulit. These include Eddin Khoo’s Pusaka, which has been promoting Kelantan wayang for more than a decade. Unfortunately, the presence of wayang events and activities here cannot compete with what the Indonesians have.

TRIBUTE TO WAYANG
I couldn’t help feeling envious of what Indonesia had to offer on a recent trip to a 40-year-old Wayang Museum in Fatahillah Square, Jakarta. This museum, located in the premises of a 200-year-old Dutch building, isn’t well maintained but it is a splendid museum that offers visitors a detailed glimpse of the history and the art of  mostly Indonesian wayang kulit. Here, you can savour the history of the 1,500-year-old art form and see its various versions from all over Indonesia, such as wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka and wayang beber as well as wayang music (gamelan).

Enter the building and you will be greeted by three-metre tall wayang golek replicas. The museum is home to more than 4,000 artifacts, some of which are over 400 years old. Walking through the dimly-lit corridors, I had only one complaint —the lack of information on the exhibits and artifacts. The impressive exhibits encased in glass displays could have been appreciated better had the captions been more detailed. Nevertheless, one cannot help but be impressed by the collection. I am a huge fan of wayang golek. It is like watching wayang kulit in 3D. Wayang golek uses intricately-carved and designed puppets elegantly clothed in decorative costumes.

Through  the exhibits, one begins to understand other aspects of Indonesian culture and arts that thrive alongside wayang kulit. For example, Indonesian batik is inspired by these wayang kulit characters along with the history of Indonesian gamelan music. Through the Wayang Museum, one is treated to various other aspects of Indonesian traditional arts.

HISTORICAL LOCATION
I also love the old building in which the museum is housed. It has a colourful history too. Though the building is about 200 years old, the actual site was formerly that of the Old Dutch Church, built in 1640 and stood for about 100 years. Its grounds were the burial site for many Indonesian Dutch masters including one of the first governors, J.P. Coen. The graves have since been relocated but a few of the  old tombstones can still be seen in the main air-well area of the present museum.

A massive earthquake in 1808 nearly destroyed the building but it was reconstructed and used as a storage building until 1936 when the local Dutch government decided to turn it into a museum. The  Batavia Museum was officially opened in 1939. Closed during the Japanese Occupation, it was reinstated as a museum in 1957 by the new Indonesian government.

However, it would take a few more decades before the museum, then called the Jakarta Museum, became the Wayang Museum, thanks to  former Jakarta governor Ali Sadikin, an avid lover of traditional wayang kulit. It was due to his love for the art that the museum was dedicated to the origins, preservation and promotion of the wayang kulit tradition. With his support, artifacts and exhibits were collected from all over Indonesia and the world and the Wayang Museum was officially opened  in August 1975.

THRIVING CENTRE
The museum is undergoing some renovation to include the latest display technologies and design. Already, some parts of the galleries  look more modern than the rest. One room is dedicated to gamelan while another displays the various influences of wayang and puppet traditions from all over the world including India, Vietnam, China, the Middle East and Europe. Even our Malaysian wayang kulit exhibits have found their way here. What is great about the museum is that it is a living museum. Not only does it have static exhibits but it is also a centre for reviving the various forms of Indonesian wayang and a venue for  performances. Just a glance at last month’s calendar of activities shows how active it has been in promoting Indonesian wayang kulit heritage, with weekly performances held on its premises. If you happen to drop in on a weekend, you will be able to enjoy the performances of Betawi wayang kulit (shadow play), Sunda wayang golek (wooden puppet show), wayang kulit Purwa and the wayang kulit Bali.

The Indonesians guard their wayang heritage jealously and have turned it into a massive commercial commodity with sales of souvenirs, performances, multimedia and literature. A decorative souvenir wayang kulit piece can be sold for thousands of ringgit and a professional dalang can earn a comfortable living through performing for tourists. Unfortunately, ours is a dying art, despite the  efforts of organisations like Pusaka.

Hopefully the authorities will realise there is a need to preserve and promote wayang kulit before it becomes an art form that only Indonesia can claim ownership of. For now, if you want to know more about the beauty of wayang kulit, visit the Wayang Museum in Fatahillah Square on weekends.
Wayang golek puppet from Java